BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Desa Lopus hanya berjarak puluhan kilometer dari perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Saya beserta tiga teman trial trip lainnya: Maita, Annisa dan Ipul tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk sekadar menikmati keindahan alam di sekitar perbatasan.

Kali ini, Ipul yang sudah mengenal daerah perbatasan mengajak saya, Maita dan Annisa menikmati pagi melintasi jalan negara menggunakan mobil. Kami meninggalkan homestay saat peserta lain masih bermimpi.

Matahari belum terbit, embun masih menyebar, menebarkan bau pepohonan khas hutan hujan tropis. Kami melintasi jalan negara yang meliuk-liuk di antara kepulan embun pagi.

"Perbatasan masih beberapa puluh kilometer lagi dari sini." Ujar Ipul saat mobil kami melintasi Kelurahan Kudangan.

"Kawasan menuju perbatasan ini sangat eksotis, banyak rangkaian perbukitan hijau yang kita lalui," Ipul bersemangat menjelaskan.

Benar saja, saat matahari mulai menampakkan diri, rangkaian perbukitan, hutan dan sungai mulai menyeruak dari balik kabut. Wow! Benar-benar mengagumkan!

Hutan-hutannya masih asli, puncak-puncak bukit yang masih tertutup kabut, burung-burung yang sesekali terlihat, menambah eksotisme suasana pagi itu.

Ipul menepikan mobil yang kami tumpangi. Saya, Maita dan Annisa langsung mengambil posisi untuk mengabadikan momen ini. Kami berdiri berjejer di tengah jalan raya yang meliuk seperti ular membelah perbukitan. Berlatar belakang bukit-bukit yang masih tertutup kabut, di sebelah kanan kami terdapat jurang dengan hutan hujan tropis yang belum tersentuh tangan manusia.

"Horn bill! Itu di sana, kalian lihat?" seru Annisa sambil berlarian ke tepi jurang menunjuk ke pepohonan tinggi di bawah sana.

Benar saja, seekor burung tingang menyeruak dari balik pepohonan, sambil menyiulkan suara khasnya, terbang menuju pohon lainnya.

Ini pertama kalinya saya melihat burung tingang secara langsung. Mendengarkan suitan yang biasanya ditirukan oleh penari-penari Dayak pada pentas tari tradisional. Sungguh pengalaman luar biasa berharga, menyaksikan burung simbol kebesaran suku Dayak ini.

Setelah puas menikmati keindahan pagi di jalan raya di atas perbukitan itu, kami memutuskan kembali ke Desa Lopus.

Melewati kawasan ini menggunakan mobil ataupun sepeda motor, harus lebih hati-hati. Meskipun jalannya mulus dan jarang ditemui pengendara lain yang melintas, kabut dapat menghalangi pandangan, sementara banyak jurang di kiri dan kanan jalan.

"Bukan cuma jurang yang harus diwaspadai di sini. Hewan-hewan ternak di sini juga patut diwaspadai. Pasalnya ada hukum unik yang berlaku di sini. Jika kita menabrak hewan ternak, babi misalnya, kita akan dikenakan denda oleh penduduk setempat." Ipul kembali bercerita.

"Dendanya dihitung sesuai dengan jumlah kelenjar susu si hewan ternak," tambahnya.

Benar-benar hukum yang unik, hanya bisa ditemui di kawasan ini. Jadi sebaiknya berhati-hatilah mengendarai mobil ataupun sepeda motor di sini. (WAHYU WULANDARI/m)