BORNEONEWS, Palangka Raya – Provinsi Kalimantan Tengah cukup menyedot perhatian dunia, terutama negara maju, bahkan tidak jarang juga menjadi sorotan.
Ini karena Kalteng menyimpan hutan tropis yang sangat dibutuhkan untuk menjaga oksigen dunia dan karena itulah disebut sebagai paru-paru dunia.
Begitu ada pembukaan hutan serta merta dunia internasional menyorot bahkan mengecam meski hanya hal kecil misalnya. Begitu pula saat satwa di dalamnya terancam, dunia internasional bertubi-tubi menyorotnya. Contoh yang cukup sering adalah orangutan yang disebut terancam habitatnya.
Di mata Gubernur Kalteng Sugianto Sabran hal tersebut ternyata berkebalikan dengan upaya atau sumbang sih dunia internasional dibandingkan jerih payah pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakatnya selama ini.
“Mereka selalu kencang teriak saat hutan terbuka, terbakar, atau alih fungsi lainnya untuk pembangunan dengan alasan ini paru-paru dunia. Pertanyaannya adalah apa upaya mereka untuk menjaga paru-paru dunia ini. Ayo mana konkritnya?,” terang Sugianto kepada Borneonews.co.id.
“Masa kita tidak boleh membangun hanya untuk kepentingan mereka yang ingin mempertahankan hutan. Kita sediakan oksigen gratis bagi mereka, apa cuma begitu saja. Dalam kasus Orang Utan misalnya, ada sedikit saja sudah sorotan bertubi. Pertanyaannya kan apa sumbangsihnya, bantu dong masyarakat sekitar agar menjaga hutan dan menjaga habitat satwanya. Bantu manusianya, jangan hanya orang utannya,” bebernya. (ROZIQIN/B-6)
Ini karena Kalteng menyimpan hutan tropis yang sangat dibutuhkan untuk menjaga oksigen dunia dan karena itulah disebut sebagai paru-paru dunia.
Begitu ada pembukaan hutan serta merta dunia internasional menyorot bahkan mengecam meski hanya hal kecil misalnya. Begitu pula saat satwa di dalamnya terancam, dunia internasional bertubi-tubi menyorotnya. Contoh yang cukup sering adalah orangutan yang disebut terancam habitatnya.
Di mata Gubernur Kalteng Sugianto Sabran hal tersebut ternyata berkebalikan dengan upaya atau sumbang sih dunia internasional dibandingkan jerih payah pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakatnya selama ini.
“Mereka selalu kencang teriak saat hutan terbuka, terbakar, atau alih fungsi lainnya untuk pembangunan dengan alasan ini paru-paru dunia. Pertanyaannya adalah apa upaya mereka untuk menjaga paru-paru dunia ini. Ayo mana konkritnya?,” terang Sugianto kepada Borneonews.co.id.
“Masa kita tidak boleh membangun hanya untuk kepentingan mereka yang ingin mempertahankan hutan. Kita sediakan oksigen gratis bagi mereka, apa cuma begitu saja. Dalam kasus Orang Utan misalnya, ada sedikit saja sudah sorotan bertubi. Pertanyaannya kan apa sumbangsihnya, bantu dong masyarakat sekitar agar menjaga hutan dan menjaga habitat satwanya. Bantu manusianya, jangan hanya orang utannya,” bebernya. (ROZIQIN/B-6)








