BORNEONEWS, Palangka Raya - Lahir pada 1966 di Malang, Jawa Timur Mama Erni Erlani harus merantau ke Palangka Raya di usia 16 tahun. Di Palangka Raya kemudian Mama Erni Erlani muda melanjutkan sekolahnya.
"Lulus SMA, usia 18 tahun saya menikah jadi tidak bisa kuliah. Jadi sarjana itu jauh sekali dari masa depan saya," ucap Mama Erni Erlani kepada Borneonews.co.id, Minggu (15/5/2017).
Tidak bisa menjadi sarjana membuat Mama Erni Erlani bertekad menyekolahkan semua anaknya ke jenjang strata 1. Namun perjuangannya dalam menyekolahkan anak-anaknya juga tak mulus. Saat usia Mama Erni Erlani memasuki 28 tahun, ia harus kehilangan sang suami.
"Sudah 23 tahun ini suami saya menikah dan saya tidak menikah lagi. Susah hidup saya karena walau suami saya ASN, waktu itu namanya masih PNS, tapi sampai hari ini saya tidak pernah terima sepeser pun uang pensiun suami saya. Tidak tahu juga kenapa. Tapi tidak apa-apa, saya ikhlas. Sejak saat itu saya berjualan sayur di pasar," tambah Nenek dengan dua orang cucu ini.
Berpindah-pindah tempat berjualan Mama Erni Erlani lakoni demi mimpinya menyekolahkan anaknya setinggi mungkin. Di 2017 ini tuntas sudah perjuangan nenek ini menggapai mimpinya.
"Anak saya yang bungsu tahun ini baru selesai kuliah, sudah sarjana. Tuntas perjuangan saya," katanya sembari tersenyum senang.
Anak tertuanya kini telah menikah dan menjadi ASN mengikuti jejak ayahnya, begitu pula anak kedua, ketiga dan keempat yang telah pindah kembali ke Jawa. Sementara si Bungsu yang baru saja sarjana sudah menjadi tenaga kontrak dan dikontrak selama 6 bulan.
"Tapi karena kerjanya bagus, kontraknya mau diperpanjang dan dipindah ke Sampit nanti. Tidak apa-apa yang penting anak saya sukses semua. Saya senang berjualan, karena dengan ini saya bisa menyekolahkan semua anak saya," tutupnya. (TESTI PRISCILLA/B-6)








