BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sebuah artikel soal minyak sawit di Huffington Post medio pekan lalu, diharapkan membuka mata para pegiat anti sawit di Uni Eropa dan Amerika Serikat yang selalu menyudutkan industri sawit.

Dalam artikel yang ditulis Robert Hii itu disebutkan bahwa minyak sawit bisa membantu mengatasi sejumlah permasalahan yang dihadapi dunia saat ini.

Hii menjelaskan bahwa minyak sawit dapat membantu memenuhi meningkatkan permintaan minyak nabati dunia, meski selama ini industri minyak sawit kerap dituding sebagai pemicu utama deforestasi, isu hak asasi manusia dan sebagainya.

Padahal, kata Hii, sejumlah pakar melihat kelapa sawit yang memiliki produktivitas jauh lebih tinggi dibandingkan tumbuhan lain yang dipakai untuk minyak nabati, jelas-jelas memberikan kontribusi besar terhadap ekosistem.

Selain itu, melimpahnya stok minyak sawit, terutama di Indonesia dan Malaysia, dapat dimanfaatkan untuk sektor transportasi dan energi guna mengurangi penggunaan minyak fosil.

Untuk kasus upaya membatasi produksi minyak sawit di Perancis dengan cara menerapkan pajak pada sejumlah produk yang mengandung minyak sawit, seperti Nutella, Hii melihat bahwa hanya fokus pada kandungan minyak sawit di dalam Nutella tanpa memperhatikan kandungan lain, sama saja dengan mengabaikan isu lain, khususnya soal aspek kesehatan.

Pasalnya, banyak produk makanan dan minuman yang memiliki kandungan gula dengan porsi lebih tinggi ketimbang minyak sawit. Untuk diketahui, tingginya asupan gula diketahui tidak baik bagi kesehatan. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Hii juga menulis bahwa pandangan sempit para aktivis lingkungan dan kesehatan terhadap produksi minyak sawit kurang mendalam dan kerap salah penilaian. Seharusnya, para aktivis lingkungan itu juga mengundang para ahli konservasi hutan dan bekerjasama dengan pemerintah dan swasta untuk membuat strategi global dalam upaya mengatasi perubahan iklim dan menjaga keragaman hayati.