BORNEONEWS, Muara Teweh - Anggota DPRD Kabupaten Barito Utara Rosi Wahyuni mengatakan, sampah merupakan permasalahan yang sulit diatasi, khususnya di daerah perkotaan maupun kawasan padat penduduk. Apalagi  pengelolaannya hingga kini cenderung masih minim dan terbatas.

Pada beberapa kota besar di Indonesia, pola pengelolaan sampah berjalan cukup baik, yaitu menjadikan sampah sebagai bentuk kecil dari penghasilan pokok atau penghasilan tambahan warga.

Mereka bukan hanya memilah kemudian terus menjual sampah sebagai penghasilan sampingan, namun juga hasil akhir dari sampah pun bisa dimanfaatkan, seperti dijadikan pupuk.

"Kita sadari bahwa kabupaten ini belum memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) yang luas. Namun kalau saja di tempat tersebut bisa dioptimalkan tentunya akan membuat lapangan kerja baru dan secara otomatis bisa menunjang kesejahteraan masyarakat," sebutnya kepada Borneonews, Selasa (16/5/2017) .

Dikatakannya pula, selain mempunyai mesin dengan teknologi tinggi untuk mengelola sampah, ke depan juga hendaknya ada sumber daya manusia (SDM) yang bagus untuk penanganannya.

"Sampah yang selama ini dibuang masyarakat sudah tergantung dengan jenisnya, seperti berupa sampah plastik, rumah tangga, daun, dan sebagainya. Yang mana akan dilakukan daur ulang dengan mesin-mesin tersebut sehingga dapat menciptakan penghasilan," ucapnya.

Dengan sistem pengelolaan sampah yang baik, pemkab bisa memberlakukan retribusi pungutan pembuangan sampah kepada masyarakat untuk menjami kelancaran pengelolaan limbang tersebut. Sehingga membuat kota menjadi bersih dan terbebas dari tumpukan sampah.

Oleh karena itu, sistem pengelolaan sampah hendaknya bisa dipelajari dengan baik. Sehingga daerah akan mendapatkan retribusi dari sampah. Selama ini sampah masih menjadi beban bagi keuangan daerah seperti biaya operasional mobil pengangkut serta pasukan kuning. (RAMADHANI/B-3)