BORNEONEWS, Muara Teweh - Anjloknya harga karet mendapat perhatian khusus dari Bupati Barito Utara, Nadalsyah. Dia langsung mengirimkan surat untuk Menteri Perdagangan terkait anjloknya harga karet ini.
“Turunnya harga karet ini berdampak pada perekonomian masyaraka,” katanya. Nadalsyah mengatakan surat tertanggal 10 Mei 2017 ini juga ditembuskan ke Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran, Bupati/Walikota se Kalteng, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Dirjen Perdagangan luar Negeri dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Regional Kalimantan di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Menurut Nadalsyah, pada Desember 2016 harga karet sempat melonjak naik dari Rp4.000 hingga mencapai Rp10 ribu per kilo gram. Kenaikan itu setelah adanya kebijakan Menteri Perdagangan atas larangan impor karet sintetis.
Namun sejak beberapa bulan terakhir ini harga karet turun dan semakin anjlok hingga hanya Rp5.000/Kg ditingkat petani.
“Terjadinya penurunan karet ini lah kami memgirimkan surat kepada menteri untuk meminta penjelasan terkait melemahnya harga karet yang berdampak merugikan petani terutama para patani karet di Barito Utara,” katanya.
Terkait dengan masalah ini pihaknya mengharapkan penjelasan atau solusi sehubungan kenyataan harga karet yang menurun dan semakin anjlok dan juga sebagai kebijakan pemerintah daerah menyikapi kondisi di masyarakat.
Luas kebun karet rakyat di Barito Utara yang dikenal kaya potensi sumber daya alam batu bara itu, tercatat sekitar 35.646 hektare dengan produksi karet kering mencapai 18.696 ton per tahun. Kebun karet rakyat ini tersebar di sembilan kecamatan. (RAMADHANI/B-6)








