BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Peneliti dalam proyek Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan mengambil sampel sampel Deoxyribonucleic acid (DNA) untuk melacak keberadaan Banteng Kalimantan.

"Tujuannya untuk mencari perbandingan antara Banteng Kalimantan yang ada di ekosistem Belantikan Hulu Kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah, Taman Nasional (TN) Kutai dan TN Kayan Kalimantan timur, serta Mentarang Kalimantan Utara," jelas Direktur Eksekutif Yayorin Eddy Santoso kepada Borneonews, Rabu (17/5/2017).

Menurutnya, berbagai persiapan dilakukan untuk melacak keberadaan Banteng Kalimantan. Salah satunya menggelar pelatihan proses pengambilan sampel.

Pelatihan tersebut, lanjutnya, diikuti peserta yang terdiri dari para peneliti tim proyek Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan yang dilaksanakan Yayorin, dokter hewan dari Orangutan Foundation, staf GIS, manajer camp riset Pondok Ambung dan Manajer Rehabilitasi Orangutan SM Sungai Lamandau serta seorang mahasiswa UI yang sedang riset banteng untuk S2nya.

"Bertindak sebagai pelatih dalam kegiatan tersebut adalah konsultan banteng dalam proyek TFCA Kalimantan yang berasal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dedy Duryadi Solihin," jelasnya. (WAHYU KRIDA/B-2)