BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Smart Agribusiness and Food Tbk (SMAR) berhasil mengantongi penjualan bersih selama kuartal pertama tahun ini sekitar Rp9,210 triliun atau 16% lebih tinggi dari kurun waktu serupa tahun sebelumnya Rp7,946 triliun.

Sekretaris Perusahaan Smart Agribisnis, Jimmy Pramono, dalam paparan meteri yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia, Kamis (18/5/2017), pencapaian tersebut ditopang oleh kuantitas penjualan yang menunjukkan tren peningkatan. Smart mampu menjual produk rafinasi sebanyak 626.000 ton per akhir Maret 2017 dari periode serupa tahun sebelumnya hanya 617.000 ton.

Penjualan produk lainnya sampai dengan kuartal I tahun ini juga meningkat menjadi 983.000 ton dari raihan tahun sebelumnya pada periode yang sama, yang hanya 53.000 ton. Namun, penjualan produk non rafinasi lebih rendah atau menjadi 172.000 ton per akhir Maret 2017 dari 424.000 ton pada periode serupa tahun lalu.

Berdasarkan komposisi penjualan, baik lokal maupun ekspor hampir seimbang, di mana penjualan lokasi mencapai 489.179 ton dan ekspor sebanyak 493.420 ton.

Sementara itu, hasil produksi tandan buah segar (TBS) dan produk sawit selama kuartal I-2017 juga meningkat signifikan karena telah berkurangnya dampak El Nino yang terjadi pada tahun lalu.

Produksi TBS (inti dan plasma) meningkat 14,5% atau menjadi 671.071 ton per akhir Maret 2017 dari raihan periode serupa tahun sebelumnya hanya 585.921 ton. Alhasil, produktivitas TBS juga membaik dari 4,86 ton per hektar sampai akhir Maret 2017 dari 4,26 ton per hektar dalam kurun waktu serupa tahun lalu.

Produksi produk sawit (CPO dan PK) turut meningkat 7,3% atau mencapai 194.965 ton selama kuartal I 2017 dari periode serupa tahun lalu sebanyak 181.655 ton.

Sayangnya, tingkat ekstraksi minyak sawit dan inti sawit masing-masing melemah atau menjadi 22,10% dan 5,35%. Namun, produktivitas produk sawit menguat 9% selama kuartal I-2017 dari 1,22 ton per hektar menjadi 1,33 ton per hektar.

Walaupun penjualan dan produksi menguat, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melemah 26% atau menjadi Rp340 miliar sampai dengan kuartal I-2017 dari periode serupa tahun lalu mencapai Rp462 miliar. (NEDELYA RAMADHANI/m)