BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tak terasa empat jam berlalu, tapal sepatu bot warna coklat sudah menempel di tanah tandus kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah.


Perjalanan menggunakan mobil double gardan menghantarkan petualangan darat dari Pangkalan Bun menuju kecamatan terpelosok di Kabupaten Marunting Aji. Separuh jalan bertekstur timbunan tanah tak beraspal yang dibuka salah satu perusahaan kayu menyambut kedatangan Borneonews sore kemarin.


Tidak kurang dari 60 kilometer menempuh jalan aspek berdebu saat musim kemarau dan becek di musim hujan tersebut, Borneonews sampai di hamparan bukit 'gundul' wilayah perusahaan swasta.


Arloji hitam menunjukan pukul 17.27 WIB, langit Aruta saat itu tengah asyik menampilkan keindahannya. Warna jingga dari pancaran matahari sore atau sanset menyelimuti pemandangan ribuan hektare tanah berbukit.


"Kadang-kadang mas, kalau lagi beruntung dapat cuaca bagus sering muncul sunset seperti iti," Puji, Mandor perusahaan tersebut yang kebetulan menghampiri Borneonews saat mengabadikan momen langka itu.


Tiga menit belalu warna jingga mulai meredup dan berganti kelam. Langit aruta menjelang malam. Surya mulai tenggelam, bukit-bukti gundul nampak menelan indahnya matahari sore itu. Tiga menit rasa cape hilang, tiga menit juga terpukau dengan kondisi alam di Aruta yang luar biasa.


"Dulu sulit melihat sunset seindah itu karena hamparan hutan dimana-mana menutupi pandangan mata. Tapi setelah banyaknya bembalakan hutan dan industi masuk ke Aruta, sambil gosok gigi di belakang rumah pun kami bisa melihatnya," Watini, penjual makanan berat bagi para sopir perusahaan yang mengangkut kayu hasil produksi perusahaan setempat.


Bagi sebagian orang, ingin melihat dan mengabadikan indahnya sunset harus pergi ke pinggir pantai, beberapa juga harus naik gunung. Tapi di Aruta, di jalan Aspek yang nampak keras dan tandus, ada secercah pesona untuk memanjakan mata saat pergantian dari siang ke malam hari. Aruta menyimpan pesona. (CECEP HERDI/B-8)