BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPR RI Hang Ali Saputra Syah Pahan mengkritik capaian indeks pembangunan manusia (IPM) Kalimantan Tengah. Menurut dia, perkembangan IPM Kalteng selama 2016 yang tercatat pada 2017, tidak menggembirakan.
Wakil Rakyat dari daerah pemilihan Kalteng itu menilai, angka capaian IMP Kalteng 2016 turun bila dibandingkan dengan provinsi lain. Jadi yang dilihat, Hang Ali, bukan pada tataran pergerakan angka. Tetapi lebih kepada ‘ratingnya’ jika dibandingkan daerah lain di Indonesia.
“IPM Kalteng sekarang ini (2016) diketahui melorot ketimbang capaian tahun sebelumnya. Sebab Kalteng berada pada rangking 21, merosot bila dibandingkan dengan 2015 yang masuk 10 besar, tepatnya urutan ketujuh nasional. Ini harus menjadi perhatian pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan daerah ini,” ungkap politisi PAN ini, Kamis (18/5/2017).
Ia berharap, ada evaluasi program dan kebijakan pembangunan dari sejumlah bidang, terutama untuk indikator kesejahteraan sosial yang menjadi tolok ukur IPM. Yaitu bidang kesehatan, pendidikan, dan perekonomian.
Sementara itu, hal berbeda diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng Hanif Yahya. Menurut dia, BPS Kalteng mencatat ada perubahan positif pada angka IPM Kalteng 2016 bila dibandingkan dengan 2015, meski hanya sedikit. Pada 2015, IPM Kalteng di angka 68,53, sedangkan pada 2016 naik menjadi 69,13 atau meningkat 0,88%.
Secara kategori, Hanif mengatakan angka IPM Kalteng ini tidak rendah dan tidak tinggi. Menurut dia, meningkatnya IPM menandai pembangunan manusia di Kalteng terus mengalami kemajuan.
“Dengan angka ini, pembangunan manusia di Kalteng 2016 adalah tidak tinggi tetapi juga tidak rendah. IPM Kalteng berstatus sedang, masih sama dengan statusnya pada 2015. Tetapi mengalami kenaikan sehingga pembangunannya mengalami kemajuan."
Hanif menuturkan, IPM merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan pembangunan dalam jangka panjang. IPM dibentuk dari tiga dimensi dasar yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standard hidup layak. Umur panjang digambarkan dengan angka harapan hidup saat lahir (AHH), pengetahuan digambarkan dengan indikator rata-rata lama sekolah (RLS) dan harapan lama sekolah (HLS). sedangkan standard hidup layak digambarkan oleh pengeluaran per kapita. (ROZIQIN/B-3)








