BORNEONEWS, Sampit - Aktivitas masyarakat Dayak yang turun temurun sampai saat ini tidak bisa ditinggalkan salah satunya mencari kayu. Aktivitas itu dilombakan dalam Festival Budaya Isen Mulang, yang dipusatkan di Taman Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, yakni lomba maneweng (menebang), manetek (memotong) dan menyila (membelah) kayu.
Pada lomba itu, Liung (sejenis kapak) dan Pahera (ganggang Liung) menentukan kecepatan peserta. "Harus beda Liungnya, kalau untuk meneweng agak sedikit besar, sementara untuk manetek dan menyila agak lancip," kata Ganting salah satu perwakilan peserta dari Gunung Mas, seusai lomba, Sabtu (20/5/2017)
Tidak perlu mengeluarkan tenaga penuh untuk menyelesaikan lomba asalkan alat dan cara melakukannya tepat dan sesuai. "Santai saja kalau alatnya sesuai, kalau tidak itu yang bikin lambat," ucapnya.
Itu terlihat dari salah satu peserta yang Liungnya sempat terlepas dari Paheranya. Itu diakibatkanya ikatan Liung pada Pahera kurang kuat, saat peserta mengayunkannya mengenai kayu langsung lepas.
Dalam lomba itu tidak semua Kabupaten ikut serta hanya 9 peserta, di mana tiap kolompok terdiri dari tiga orang."Kalau Liungnya pas, untuk maneweng, manetek dan menyila itu yang mudah," ucap salah seorang perwakilan Gunung Mas.
Seperti alat yang digunakan perwakilan peserta dari Kapuas yang dengan cepat menyelesaikan perlombaan tersebut. Dalam lomba itu selain mengenalkan budaya daerah juga memperlihatkan kekompakan peserta yang tiap kelompoknya terdiri tiga orang.
Di mana peserta pertama bertugas maneweng, kemudian setelah kayu jatuh di tempat yang sesuai dilanjutkan dengan manetek, setelah itu dilanjutkan dengan manyila, dan menyusun kayu tersebut. (NACO/B-2)








