BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meningkatkan skill dan kompetensi tenaga medis, Rumah Sakit Citra Husada (RSCH) Pangkalan Bun menggelar Nursing Workshop Basic Life Support (BLS) di Ballroom Hotel Alibaba, Sabtu (20/5/2017).

Ketua Panitia pelaksana, dr Duita Eka Sari menjelaskan, kegiatan yang digelar tersebut merupakan upaya RSCH Pangkalan Bun untuk meningkatkan pelayanan bagi para pasien. "Ada 37 perawat dan bidan RSCH Pangkalan Bun yang mengikuti acara ini," paparnya.

Menurutnya, kegawatdaruratan dapat terjadi dimana pun dan kapan pun khususnya di lingkungan rumah sakit. Kejadian ini pun bisa dialami oleh pasien, keluarga pasien, maupun petugas rumah sakit itu sendiri.

"Kami harap dengan kegiatan ini tenaga medis di RSCH Pangkalan Bun memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan pertama dalam kondisi darurat," bebernya.

Sebagai contoh, sambung dr Duita, kasus seseorang terjatuh lalu tidak sadarkan diri, maka nyawa orang ini tentu terancam sehingga mengakibatkan kegawatan. Kasus tidak sadarkan diri pada seseorang bisa disebabkan karena mengalami serangan jantung, gagal nafas, hipoglikemia atau kurangnya gula dalam darah.

Dia menilai, kasus kematian karena serangan jantung dan stroke begitu tinggi. Padahal, dengan pertolongan dasar, nyawa mereka bisa tertolong. Kemampuan untuk memberikan pertolongan inilah yang akan kita berikan kepada para tenaga medis.

Sementara, narasumber yang didatangkan dari Ramsay Sime Darby Health Care Indonesia, Ade Cahyo Fajarianto memaparkan, Selama ini, seseorang yang mendadak jatuh dengan kondisi tidak bernapas bukan berarti sudah meninggal. Ada pula yang tubuhnya sudah membiru dan dingin. Itu adalah fase mati suri. 

Kepada korban, lanjut dia, setiap menit pertolongan sangat berharga bagi korban gawat darurat. "Time saving is life saving," ujarnya.

Ia menjelaskan, lamanya 5 hingga 10 menit setelah kejadian. Jika dalam jangka waktu itu ditolong dengan BLS, seseorang bisa hidup lagi. Supaya benar-benar mempraktikkan cara pertolongan yang benar, sejumlah alat peraga berupa boneka digunakan dalam pelatihan.  "Pijatan 2–3 menit awal memberikan peluang 50 persen hidup kembali,"ucap Eddy.

Dia mengungkapkan, pijat yang dimaksud adalah 30 kali tekanan kuat di tengah tulang dada. Setelah 30 kali pijatan, korban diberi dua kali pernapasan buatan.  "Usahakan selama pemijatan, kaki korban diangkat lebih tinggi dari dada," imbuhnya.

Lama pemijatan untuk BLS tidak terbatas. Tujuannya, sampai korban bernapas lagi. Di luar negeri, ada yang melakukan pijat jantung sampai sembilan jam. 

Tindakan itu bisa dilakukan untuk semua penyakit yang mengakibatkan korban tidak bernapas. Misalnya, serangan jantung, stroke, alergi berat, tersedak, tenggelam, dan tersengat listrik. 

Pria kelahiran Kota Malang (Jawa Timur) itu menyebutkan, tidak perlu ragu menolong korban. Sebab, setiap menit keterlambatan, kesempatan berhasil bisa turun 10 persen. 

"Terlambat 10 menit, habis kesempatan untuk menyelamatkan. Jika 30 menit, wasalam. Makanya, kalau lihat ada yang kritis, tidak perlu pikir panjang. Langsung pijat saja," tegasnya.

Selain itu, selama memberikan pertolongan, sebaiknya tetap menghubungi pusat komunikasi di rumah sakit. Bisa juga memanfaatkan automatic external defibrillator (AED).

Ditambahkan Ade, tindakan BLS memang bukan hanya tugas dokter. Setiap orang bisa melakukannya. Dia lantas memutar beberapa video yang menampilkan cara menolong korban.

"Selalu ada harapan bagi pasien gawat darurat jika mendapat pertolongan dasar," katanya.

Dia mengungkapkan, tidak perlu takut untuk menolong. Sebab, jika korban henti napas dibiarkan, kematian permanen akan terjadi. Apalagi kalau menunggu bantuan yang kedatangannya bisa memakan waktu lama. "Menolong memang belum tentu berhasil. Tapi, kalau dibantu, kesempatan hidupnya lebih besar," ujarnya.

Selanjutnya, penolong harus bisa merasakan ada tidaknya udara yang keluar lewat hidung. Yang terakhir, memeriksa denyut nadi. "Denyut nadi bisa ditemukan di leher atau pergelangan tangan," jelasnya.

Setelah benar-benar tidak ada napas yang keluar lewat hidung dan tak ditemukan denyut nadi, BLS bisa dilakukan. Ia menuturkan, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Pertama, membaringkan korban di tempat yang datar. Lalu, dilakukan pijat jantung.

"Pijat jantung dengan kuat. Tangan ditempatkan di tengah dada. Hitungannya 100 kali per menit," ungkapnya.
BLS sebaiknya dilakukan beberapa orang. Dengan demikian, ketika lelah, penolong bisa digantikan oleh orang lain. "Kalau sendirian, nanti penolong bisa jadi korban selanjutnya" kelakarnya.

Selain itu, dalam BLS, diperlukan orang yang mengangkat kaki korban. Tujuannya, ada aliran darah ke otak. Selain itu, ada yang memanggil petugas medis dan mencarikan automatic external defibrillator (AED) atau alat kejut jantung. (FAHRUDDIN FITRIYA/ADV)