BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Jarak 12 kilometer (km) dari jantung kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) berdiri sebuah Dusun Campedak, RT 33 Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan.
Terdapat 13 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 40 jiwa, dusun ini terdiri dari masyarakat asli dayak Pasir Panjang. Sayang sekali, keberadaan perkampungan yang sudah 70 tahun berdiri itu nampak terisolir. Akses jalan masuk dari jalan raya Ahmad Yani dekat Bundaran Pangkalan Lima menuju dusun sepanjang 1,2 kilometer sangat menghawatirkan.
Jalannya rusak parah karena masih bertekstur tanah. Selain itu tak ada air bersih dan listrik yang memfasilitasi warga dusun tersebut. Miris, keberadaannya di tengah kota nampak terasingkan meski hanya 15 menit saja dari jantung kota manis. Warganya hidup sangat sederhana.
"Sejak dulu sampai sekarang kami belum memiliki aliran listrik, kalau malam pakai lampu cempor," kata Tiah (35) warga setempat, Senin (22/5/2017).
Ia berharap pemerintah tidak pilih kasih. Beberapa kali ia dan warga dusun mengajukan proposal ke pemerintah daerah namun tak pernah ada jawaban dan pembangunan.
"Ada aspal jalan sepanjang 200 meter, itupun bantuan dari sisa aspal di desa sebelah. Jalan poros duaun kami seperti itu, becek dan sulit dilewati," katanya.
Terhitung sepanjang 1 km lebih jalan akses menuju dusun tersebut rusak parah. Belum ada pengaspalan sama sekali di jalan utama menuju dusun itu. "Namanya Gang Kalui, dekat bundaran Pancasila. Lihat saja ke sini, coba pemerintah mampir ke dusun kami biar tahu pembangunan di sini seperti apa," katanya. (CECEP HERDI/B-5)








