BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Permintaan minyak sawit dari Tiongkok diperkirakan menurun dalam beberapa bulan ke depan.
Pemicu penurunan permintaan itu adalah melimpahnya pasokan minyak nabati lain ke pasar Negeri Tirai Bambu.
"Jumlah pengapalan ke Tiongkok sejak Juni hingga Agustus sangat rendah, bahkan jauh di bawah normal, kemungkinan kurang dari 100.000 ton per bulan," kata analis komoditas dari sebuah perusahaan riset yang berbasis di Shanghai, seperti dikutip Reuters, Rabu (24/5/2017).
Pada Juni lalu, Tiongkok mengimpor minyak sawit lebih dari 200.000 ton, yang dikirimkan dari Indonesia dan Malaysia.
Rendahnya harga minyak nabati lain akibat meningkatnya pasokan di pasar, diperkirakan akan terus menekan permintaan minyak sawit hingga Oktober, yaitu periode yang biasanya diwarnai dengan tingginya permintaan untuk merayakan festival pertengahan musim gugur.
Dengan kondisi seperti itu, maka spread harga antara minyak kedelai dengan minyak sawit menuju kisaran tersempit dalam hampir sedasawarsa pada April.
Hal itu memicu para pembeli di Tiongkok pada awal Mei membatalkan tiga pengapalan minyak sawit untuk Juli dan Agustus, menurut laporan National Grain and Oils Information Centre di Tiongkok.
"Dalam jangka pendek, kita akan melihat Tiongkok akan menimbun lebih banyak minyak kedelai ketimbang minyak sawit karena harga yang lebih terjangkau," ucap William Simadiputra, analis perkebunan dan ekuitas di DBS Bank. (NEDELYA RAMADHANI/m)








