BORNEONEWS, Nanga Bulik - Bupati Lamandau, Marukan, dalam beberapa kesempatan kerap menyinggung soal agenda Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2018 mendatang. Seperti yang disampaikannya dalam acara syukuran atas rampungnya proses pembangunan lima jembatan di Lamandau, Kamis (25/5/2017).
Marukan sangat mengapresiasi sejumlah nama yang akhir-akhir sudah tampak memiliki niat untuk bertanding dalam pesta demokrasi lima tahunan itu. "Tahun depan kita ada pilkada, saya ingin menyampaikan wanti-wanti," kata Marukan.
Antara lain, kata dia, bupati adalah orang yang mampu melanjutkan pembangunan yang telah dilakukan pemerintah kabupaten sejauh ini.
"Selama dua periode saya bersama pak Sugiarto (Wabup), telah berupaya membangun pondasi di semua bidang, jadi nanti tinggal melanjutkan," katanya.
Kemudian, pemimpin ke depan juga harus mampu melaksanakan pelayanan pemerintahan. Artinya mampu melayani masyarakat, termasuk menjaga persatuan dan toleransi yang telah terbangun.
"Yang tak kalah penting, usahakan memilih calon bupati dan wakil bupati putra daerah yang selama ini berdomisili atau tinggal di Lamandau. Bisa dari suku mana saja asalkan dia penduduk Lamandau," katanya.
"Alasanya, kalau orang sini pasti ada kecintaan dan perhatian kepada daerah. Karena dia memahami situasi daerah," imbuhnya
Jika sudah memahami daerah, terang Marukan, maka apa yang dibutuhkan Lamandau tentunya sudah tahu. "Kemudian juga sudah ada ikatan batin antara kelompok masyarakat bahkan secara individu," jelasnya.
Sehingga, lebih jauh dikatakan dia lagi, tidak mungkin akan mengeluarkan kata-kata, tindakan ataupun prilaku yang bertentangan norma dan kaidah persatuan dan kesatuan di Bumi Bahaum Bakuba.
"Kalau orang luar yang datang hanya ingin menjadi Bupati Lamandau, pertama dia tidak tahu apa yang dibutuhkan daerah ini. Yang kedua, rasa kecintaanya kepada daerah itu kurang," bebernya.
Kemudian juga, sambung dia lagi, akibat dia tidak mengerti tentang ikatan persaudaraan yang begitu kuat antara masyarakat kabupaten Lamandau, kalau ada misalnya semacam isu-isu adu domba segala macam akan mudah terpancing.
"Sekarang kan kita tidak seperti itu. Biarpun saya selaku bupati dari suku dayak, namun bagi saya seluruh warga yang ada di Lamandau baik itu suku jawa, sunda, banjar, bima, NTT dan lain sebagainya sudah kita anggap saudara dan keluarga kita sendiri," terangnya. (HENDI NURFALAH/B-111)








