BORNEONEWS, Palangka Raya – Kinerja Gubernur Kalteng Sugianto Sabran dan Wakil Gubernur Habib Said Ismail (SOHIB) dalam setahun pertama kepemimpinannya telah ‘menghidupkan’ Pos Pengawasan Terpadu Optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD). Pendirian pos-pos pengawasan ini dilatarbelakangi keprihatinan banyaknya potensi PAD dari sektor pajak yang menguap alias bocor.

Bahkan kini sudah ada empat pos yang dibentuk. Dua pos yang pertama, menyasar keluarnya sumber daya alam (SDA) bidang pertambangan. Yaitu di Rangga Ilung perairan Kapuas, dan Pasar Panas di Barito Selatan. Tim yang dibentuk Gubernur itu dilepas di Aula Jayang Tingang pada Kamis (13/4/2017) lalu. Ide ini mencuat sebagai tindak lanjut dari sidak dan penahanan 20 tongkang batubara di DAS Barito di perairan Buntok, Barito Selatan karena tidak bayar pajak.

Pemerintah provinsi (Pemprov) Kalimantan tengah pun menambah dua pos berikutnya. Dua pos tambahan tersebut yaitu Check Point di Anjir Km 16 Kapuas dan Pos Sungai Mentaya di Bagendang, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Petugas pos pengawasan terpadu itu diberangkatkan Senin (8/5/2017) lalu.

“Pos terpadu PAD sudah jalan. Hasilnya ada puluhan truk tangki BBM dan lainnya yang terjaring di Pos pengawasan terpadu di Anjir, perbatasan dengan Kalimantan Selatan (Kalsel). Beberapa tongkang juga terjaring di pos perairan,”

“Kita akan optimalkan perolehan dari pajak, royalty, retribusi dan sebagainya. Selama ini pajak dari masuknya tangki minyak menguap 70 persen. Mereka tidak membayar pajak bahan bakar kendaran bermotor (PBBKB) di Kalteng. Kalau kita bisa awasi itu, bisa raup Rp 1 triliun. Sementara ini cuma dapat Rp 300 miliar dari PBBKB,” jelas Sugianto.

Apabila penerimaan daerah yang bersumber dari PAD sudah berjalan maksimal, maka akan dapat berimprovisasi dalam membangun Kalteng. Sebab kalau berharap dari APBN melalui dana perimbangan dan dana alokasi khusus (DAK), sambung Sugianto, akan sulit mengembangkan pembangunan.

“Kalau PAD kita sudah besar minimal seperti nominal APBD sekarang ini yang 4 triliun, maka kita mudah saja mengembangkan pendidikan dan kesehatan, perguruan tinggi bisa dibangun megah seperti daerah lain, rumah sakit yang besar dan sebagainya. Ujung-ujungnya di PAD kita ini,”

Kemudian, lanjut dia, hal tak kalah penting dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) Kalteng adalah pengamanan generasi muda. Ia berulang kali menyatakan sikap tegasnya terhadap peredaran Narkoba. “Narkoba, Zenit, Koplo, lem fox, harus diselesaikan karena banyak menelan korban masyarakat Kalteng yang utamanya generasi muda. Kalau bandar dan pengedar kambuhan berkeliaran, tembak di tempat saja,” tutupnya. (ROZIQIN/B-8)