BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Mahalnya sejumlah bahan pokok makanan dan penunjang lainnya di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) membuat masyarakat gelisah. Terlebih lagi, kelangkaan gas LPG (elpiji) tiga kilogram hampir dua pekan ini menambah kesulitan warga.


"Kalau ada dugaan penimbunan tolong yang berwenang segera turun tangan, periksa semua gudang-gudang penyimpanan seperti di daerah lain banyak yang tertangkap tangan menimbun barang dagangan," kata Agus Winarno, warga Pangkalan Bun saat ditemui Borneonews di kediamannya, Senin (29/5/2017).


Menurutnya, mahalnya harga sejumlah bahan pokok dan bumbu dapur di pasaran sudah cukup membuat sulit kehidupan warga. Jangan ditambah lagi dengan kesulitan lain seperti sulitnya mencari isi ulang gas elpiji tiga kilogram. Elpiji itu sendiri memang diperuntukan untuk warga tidak mampu menggeser minyak tanah (mitan) yang subsidinya saat ini telah dihapus pemerintah. "Sekarang malah langka, orang lagi butuh-butuhnya. Warga tidak mampu malah makin tercekik. Ada juga yang jual tapi harganya mahal sampai Rp35 ribu satu tabung," kata dia.


Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop dan UKM Kobar, Eko Lusina mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar operasi pangan untuk memeriksa gudang-gudang bahan pokok dan barang dagangan yang kini mahal di pasaran bersama Polres Kobar. "Satgas mafia pangan kan dari Polres, nanti kami juga ikut dalam operasi itu," kata Eko yang juga menerangkan dalam waktu dekat operasi akan segera digelar.


Sementara itu Kapolres Kobar, AKBP Pria Premos mengatakan pihaknya akan melakukan operasi antik yang didalamnya melaksanan razia pemeriksaan gudang-gudang makanan yang dijual untuk menekan aksi penimbunan. Selain itu mememeriksa makanan kadaluarsa di pasar tradisionl dan modern serta toko-toko sembako. "Pada bulan Ramadan kita akan gelar operasi antik," kata Kapolres. (CECEP HERDI/B-8)