BORNEONEWS, Sampit - Ketua Komisi I DPRD Kotawaringin Timur, Handoyo J Wibowo, menilai banjir yang terjadi selama ini akibat hutan Kotim yang kian menipis, pascapembukaan lahan secara besar-besaran oleh perusahaan swasta.

Sehingga, tidak ada hutan yang mampu meresap air;. Kemudian air langsung mengalir ke anak sungai dan menimbulkan luapan hingga menenggelamkan rumah warga.

"Hutan di Kotim saat ini sudah menipis dan tidak berfungsi dengan baik. Bila terjadi hujan dengan intensitas tinggi banjir akan mudah terjadi. Kotim memiliki luas wilayah 16.496 Km persegi. Dihuni 400.658 jiwa. Saat ini terancam tidak memiliki hutan cadangan. Sebab yang tersisa hanya 25 persen dari total luasan hutan sebelumnya," kata Handoyo, Selasa (30/5/2017)

Terkait itu, dia meminta ketegasan pemkab untuk tidak memberikan izin membuka lahan baru lagi. Mengingat bencana sudah menunjukkan tanda-tanda khususnya di wilayah hulu Kotim.

Penyebab lain banjir yakni minimnya perbaikan infrastruktur seperti sungai, danau dan sebagainya. Sementara, infrastruktur yang ada tidak berfungsi optimal. Bahkan ada perusahaan yang menutup sungai dan menanam sawit di atasnya.

"Dalam melakukan penanggulangan banjir hampir tidak ada perusahaan kelapa sawit yang mau membuat saluran penyerapan air di sekitar lahan perkebunannya. Akibatnya ketika musim hujan turun air itu langsung meluap dan menghampiri pemukiman warga," pungkasnya. (NACO/B-11)