BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Surat Edaran (SE) Bupati Kotawaringin Barat tentang Larangan Menjual dan Memainkan Mercon selama Bulan Suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1438 H tak sepenuhnya dipatuhi warga Kotawaringin Barat.
Faktanya, wargakhususnya anak-anak masih begitu mudah mendapatkan mercon dari para penjual. Berbagai jenis mercon baik berukuran kecil (petasan cabe) hingga petasan yang daya ledaknya 10 kali lipat dijual bebas di pasaran.
Parahnya, saban usai santap sahur suara mercon rancak terdengar di sepanjang Jalan Sutan Syahrir, Pangkalan Bun. Tidak terbatas orang dewasa, anak-anak kecil terlihat asyik membunyikan petasan.
Ratusan anak-anak ini bukan saja menggunakan mercon tapi juga berinovasi membuat alat sejenis leduman dengan bahan pipa yang dibelit lakban beraneka warna. Pemicu ledakan digunakan pemantik korek gass dan berbahan bakar spiritus.
"Sampean bayangkan dari simpang Masjid Agung hingga RS Sultan Imanudin penuh dengan anak-anak bermain mercun membaur dengan warga lainnya yang sengaja berolahraga atau sekadar jalan-jalan," ungkap Rahman warga Kelurahan Mendawai, Kamis (1/6/2017).
Sementara itu, Bupati Kotawaringin Barat, Hj Nurhidayah mengatakan, surat edaran sudah diberikan untuk melarang penjualan dan bermain petasan pada bulan Ramadan dan Idul Fitri 1438 H. Namun karena para penjual ini juga berusaha mencari rezeki untuk penghasilan tambahan mereka maka kita mengimbau kepada para orang tua untuk bersama-sama mengingatkan dan menjaga anak-anak.
Apalagi sudah ada contoh di luar sana, ada korban baik luka maupun meninggal akibat petasan. "Ini bukam hanya menjadi tanggung jawab dinas terkait dan pemerintah daerah tetapi juga menjadi tanggung kawab orang tua untuk bersama-sama mengingatkan anak-anak kita," kata Nurhidayah, seusai menjadi Irup Peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman kantor bupati Kotawaringin Barat, Kamis (1/6/2017).
Dari pantauan Borneonews, seusai santap sahur sudah banyak anak-anak dari berbagai penjuru kota Pangkalan Bun berkumpul di Jalan Sutan Syahrir, bahkan menjelang pukul 05.00 Wib jumlahnya semakin banyak. Mereka membunyikan petasan dan menggunakan alat lainnya semacam leduman.
Bahkan di dalam lingkungan pemukiman saban hari anak-anak bermain petasan. (KOKO SULISTYO/B-2)








