BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Nasib sial dialami oleh Fredy (53 tahun) dan Giancarlo Fiesta (18) yang dikenal sebagai pembalap motocross nasional.
Bapak dan anak warga Jalan Pelita RT 1 Desa Pasir Panjang, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) ini tersungkur ke tanah lantaran dihajar oleh perwira AU di Jalan Pasir Panjang depan SMP 7, Rabu (31/5/2017) sekitar pukul 18.30 WIB.
Kepada Borneonews Kamis (1/6/2017) Fredy menceritakan peristiwa yang dialaminya tersebut.
"Saat itu saya, anak dan seorang teman baru pulang latihan motocross di Pangkalan Lada sekaligus buka puasa bersama. Usai berbuka puasa, kami langsung pulang ke rumah, agar tidak ketinggalan salat Tarawih," ujar Fredy.
Saat melintas di Jalan Iskandar mau masuk tikungan Bundaran Pancasila, mobil Toyota Hilux yang dikemudikannya, bermaksud mau mendahului mobil Honda Jazz merah.
"Saya bermaksud mendahului dari sebelah kanan. Belum sempat terjadi selip-selipan, mobil Honda Jazz merah itu langsung memotong jalan saya dari arah kiri. Setiap saya bermaksud mendahului, pasti ia kesannya tidak memberikan jalan," ujar Fredy.
Fredy kemudian membuka kaca mobil, bermaksud menanyakan kenapa pengemudi mobil tersebut berlaku demikian. "Saat berpapasan ia juga membuka kaca mobil. Saya melihat dari postur tubuhnya orang tersebut seperti aparat. Karena tidak mau mencari masalah, saya kemudian mengalah dan tidak lagi mencoba mendahului mobilnya," jelas Fredy.
Mobil Jazz tersebut, lanjut Fredy, tetap berada di depan mobilnya dan berbelok ke arah Jalan Pasir Panjang.
"Di depan SMPN 7, mobil saya berhenti lantaran rumah teman saya berada tepat di depan sekolah itu. Rupanya mobil Jazz merah itu berhenti juga dan keluar dua orang berpostur besar. Salah satunya membawa radio HT. Menggunakan alat komunikasi itu, orang yang tidak saya kenal tersebut memberitahukan bahwa ada tawuran di Jalan Pasir Panjang, anggota cepat ke sini," ujar Fredy.
Menurut Fredy orang itu langung membentak dan mendorong badannya. "Kamu mau apa! Ujar orang tersebut. Lantaran saya tidak merasa salah, saya berkata, lho salah saya apa, kan dari tadi Anda yang menghalangi mobil saya. Sambil dibentak, dada saya terus didorong-dorong," ujar Fredy.
Kemudian orang tersebut, bermaksud memukul wajahnya. "Merasa bapaknya mau dipukuli, anak saya Giancarlo mencoba menghalangi. Namun ia malah dipukul di bagian wajah hingga jatuh masuk parit. Setelah itu saya juga dipukul di bagian wajah hingga jatuh ke tanah," ujarnya.
Saat itulah, lanjut Fredy, sejumlah orang berdatangan ke lokasi, di antaranya ia kenali sebagai anggota AU Lanud Iskandar.
"Salah seorang membantu saya berdiri. Kata beberapa orang yang ada di situ, orang tersebut adalah Danlanud Iskandar. Ia kemudian memerintahkan orang yang memukul saya dan anak untuk kembali ke markas," jelas Fredy.
Menurutnya, Danlanud dengan baik-baik mengatakan bahwa ia meminta maaf atas peristiwa ini. "Setelah itu saya dan anak pulang ke rumah. Kemudian setelah menenangkan diri kami ditemani beberapa anggota keluarga lainnya mendatangi Polsek Arsel untuk melaporkan hal ini. Lantaran peristiwa ini melibatkan unsur AU, kami kemudian diarahkan untuk melapor ke POM AU," ujar Fredy.
Namun di POM AU, permasalahan ternyata masih belum selesai. "Dari kata-kata petugas di situ terkesan saya yang bersalah dan mau minta damai. Kemudian saya katakan, saya ke sini mau melaporkan kejadian yang menimpa saya," ujarnya.
Menurut Fredy, perwira yang memukul diri dan anaknya tersebut masih terlihat garang. "Mencegah hal yang tidak diinginkan, kami kemudian pulang ke rumah. Namun malam harinya di Pasir Panjang dan sekitarnya berkembang kabar bahwa perwira tersebut malah menantang. Ia mengatakan tidak takut pada siapapun," ujar Fredy.
Ia selaku warga Desa Pasir Panjang berharap pihak AU Lanud Iskandar bisa mengambil tindakan atas apa yang dilakukan oleh perwira tersebut. (WAHYU KRIDA/B-2)








