BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Namanya, Abizar Kilimanjaro. Panggilan sayangnya, Abi. Dengan raut muka yang nyaris selalu tersenyum, setidaknya seringai selalu ada di wajah mungilnya, bocah 3 tahunan itu, nampak menyenangkan. Sepertinya, siapapun bakal mengulum senyum melihat tingkah lincah anak pertama dari dua bersaudara Agung Hariyadi, jamaah Masjid Darun Nida, Pangkalan Bun, Kelurahan Madurejo, Kecamatan Arut Selatan, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah itu.


"Melihat wajah, dan tubuh imutnya, dengan senyumannya itu, menyenangkan, cenderung menggemaskan," Ibu Sri Andriaty, tetangga RT 04 keluarga Abi, Kamis (1/6/2017).


Abi tergolong popular di lingkungannya. Tidak saja di kalangan anak-anak. Orang dewasa pun, terutama yang rajin salat berjamaah di Masjid Darun Nida, Jalan Sultan Imanuddin Pangkalan Bun. Ia termasuk kerap mengikuti sang ayah ke masjid dalam waktu-waktu salat. Termasuk beberapa kali di subuh hari, meski terkantuk-kantuk, atau sedikitnya, tidak dalam performa aslinya nan ceria. Selebihnya, Abi senantiasa terlihat gembira. Ahaaai... menyenangkan melihatnya.


Paling ditunggu penampilan Abizar dalam momen-momen khusus, semisal salat Idul Fitri, Idul Adha, Jumatan, atau sesekali dalam salat-salat fardhu. Saat itu, ia muncul bak pria dewasa, atau jamaah bapak-bapak. Maksudnya, dengan berbaju gamis, seperti pakaian para jamaah tablig --baju panjang sampai mata kaki, atau di bawah lutut, dengan celana panjang berwarna senada-- yang membuatnya berbeda. 


Apalagi, selain bergamis, dilengkapi penutup kepala, yang melekat rapat, atau sejenis kopiah, di tengahnya memperlihatkan sediki rambut poninya, Abi jadi sungguh lucu, menggemaskan. Sekali-dua kali ia ke masjid, bergamis, lengkap dengan penutup kepala yang memunculkan rambut depannya. Dengan busana syar'i begitu, Abi lalu berjalan masuk masjid, dengan penuh kepercayaan diri. 


Dan yang membuatnya makin menarik, di bagian belakang kopiahnya, ada sejumput kain, atau kumpulan wol, sehingga penampilannya bak Aladin dalam cerita 1001 malam, yang tenar itu. Tetapi, Abi tentu versi mungilnya. Berada di tengah-tengah, atau jamaah dewasa, keberadaannya sungguh kontras. Terlebih, saat yang sama, Abizar Kilimanjaro bisa asyik saja mengemut botol susunya.


Bermain di masjid


Meski rajin ke masjid, mengikuti ayahnya untuk salat berjamaah, Abi tidak pernah benar-benar ikutan bersembahyang. Seperti laiknya anak-anak, tokoh cilik kita ini, lebih banyak bermain-main, tidak peduli imam sedang serius membaca ayat, dan para jamaah larut dalam kekhusuan untuk menjemput ridha Illahi. Karena berada di masjid, otomatis ia banyak bermain di masjid.


Tentu Abi tidak sendirian bermain-main di masjid di tengah salat berjamaah sedang berlangsung. Ada beberapa anak-anak lainnya. Terkadang sampai 10-an anak, dua di antaranya berumur di atas 4 tahun, putra kembar Ustaz Sudarmaji, pria yang kerap didapuk menjadi imam di Masjid Darun Nida. Ada juga sesekali, terlihat Sekar adik Abi, berusia sekitar setahun, yang jalannya belum sempurna betul karena masih kecil.


Kalau anak-anak sudah berkumpul, bisa dibayangkan keriuhan, tepatnya 'kericuhan' yang mereka ciptakan. Berlari-larian, sambil berteriak-teriak berkeliling dari saf paling depan, tempat imam, sampai jajaran paling belakang, atau menyeruak di sela barisan penuh jamaah, senggol sana-sini, sudah jadi pemandangan biasa.


Kalau diajak berdiri dalam saf sebelum imam mengumandangkan takbir Allahu Akbar, biasanya ada saja yang mau, mungkin berpura-pura patuh. Tetapi, tak lama, begitu imam membaca surah Alfatihah, pelan-pelan satu per satu, anak-anak itu, meninggalkan barisan, atau saf, lalu berlarian sambil berteriak, atau tertawa-tawa memekakkan telinga, kembali terjadi. 


Yang paling ramai, biasanya saat salat Magrib. Anak-anak yang datang ke masjid, ikut orang tua, atau inisiatif sendiri, lebih banyak. Lebih banyak dibandingkan waktu salat fardhu lainnya. Bisa di atas 10 anak itu. Dan keramaian yang diciptakan, jadi berlipat-lipat, gaduh sekali. Itulah dunia anak-anak, dunia bermain, tanpa peduli tempat, juga waktu.


Mahfum saja

    

Sejauh ini, para jamaah kelihatannya mahfum saja. Mereka bisa memaklumi kenakalan-kenakalan anak-anak kecil itu. Paling-paling, ada satu-dua bapak-bapak jamaah, yang mencoba menenangkan anak-anak itu, kalau sudah gaduh betul. Tidak cukup mempan. Karena, begitu salat berjamaah dimulai, imam sudah mengangkat takbir, dan membaca surah, tak mungkin lagi bisa berbuat selain larut dalam salat, berkonsentrasi, memasrahkan diri pada Allah semata.


Sebagian besar jamaah mengerti, kehadiran anak-anak di masjid, sedini mungkin itu bagian dari pembentukan karakter,  agar kelak, ketika mereka besar, bisa mencintai masjid, dengan segala aktivitas keagamaannya. Semua paham, kaum muslim harus mengenal agamanya jauh-jauh hari, sejak kecil, seumuran Abizar Kilimanjaro itu, agar saat dewasa, mampu menjadi pembela agama Islam.


Banyak orang tua memang sengaja membawa anak-anaknya ke masjid, terutama yang laki-laki, untuk mempraktikkan salat berjamaah setiap waktunya tiba, dengan harapan setelah sang anak dewasa, kelak, tidak perlu diingatkan lagi kewajibannya beribadah. Dengan terbiasa ke masjid, yang dibiasakan sejak belia, setelah besar menjadi lelaku otomatis, sebagai wujud kecintaan terhadap agama, ketaatan pada perintah, dan larangan Allah, tanpa reserve.


Jamaah Darun Nida ada yang sengaja bersusah-susah membawa anak-anaknya sejak kecil ke masjid, sejak kemampuan jalan sendiri si anak belum sempurna betul. Orang tua ini, menggendong si anak yang terus terkantuk-kantuk, sejak dari rumah, dan di masjid malah hanya tertidur di sampingnya sampai salat selesai. Lalu, kembali si anak digendong pulang, untuk kembali tidur. Hal itu terus berulang, berhari-hari, berulang-ulang. Bohong, kalau tanpa lelah. 


Hasilnya, dua anaknya, seorang pelajar SMP, dan lainnya murid SD, sudah terbiasa salat berjamaah di masjid, termasuk di subuh hari, sampai hari ini. Keduanya, nyaman-nyaman saja ke masjid, termasuk ketika si ayah ke luar kota, dan otomatis tak bisa menemani. Si kecil pun enjoy saja berjalan sendiri, ketika kakak, dan ayahnya tak bisa bergabung. 


Tentu itu, selain karena kecintaan, dan penghambaan pada Sang Pencipta, juga merupakan buah dari kebiasaan sejak dini untuk salat berjamaah di masjid, yang menjadi hitungan wajib bagi lelaki. Benarlah kata pepatah; ala bisa karena biasa. Terbiasa ke masjid sejak kecil, setelah besar bukan masalah lagi.

 

Cucu nabi


Tetapi, sebagian masjid kita, atau pengurusnya, tidak ramah pada anak. Ada yang tega pasang wajah tidak bersahabat pada anak-anak, terutama yang terlihat berpotensi ribut, dan dianggap bakal mengganggu kekhusuan jamaah. Ada juga yang bahkan tak segan menghardik, seraya mengusir anak-anak-anak yang tak tertib, apalagi ribut di masjid.


Sedikit banyak sikap-sikap seperti itulah yang menjadikan anak-anak, dan remaja kita, kebanyakan 'jauh' dari masjid. Sebagian besar anak-remaja muslim tidak menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan, pusat aktivitas keseharian, yang kelak bakal mendekatkan diri mereka kepada agama dan pencipta-NYA. 


Ditambah faktor-faktor lainnya, masuk akal kalau anak-anak, remaja, dan kaum muda, lebih senang menghabiskan waktu senggangnya dengan nongkrong di tempat-tempat umum, atau bagi yang berduit, di kafe, mall, dan pusat keramaian lainnya. Jarang yang tahu kalau masjid itu, layak menjadi pusat aktivitas, tak sekedar tempat beribadah, belajar membaca Alquran, dan memahami maknanya.


Sudah waktunya kita, lebih peduli pada proses lahirnya generasi muslim yang mencintai masjid. Anak-anak harus dibiarkan masuk dalam kultur generasi yang terbiasa beraktivitas di masjid, sedini mungkin. Kita, para pengelola masjid harus menciptakan situasi dan kondisi agar anak-anak kita, memperoleh kenikmatan psikologis saat di masjid.


Bukankah Nabi Besar Muhammad SAW sudah mengajarkan bagaimana menjadikan masjid ramah pada anak-anak. Ada catatan tentang begitu lembutnya Nabi memperlakukan cucu-cucunya, Hasan dan Husein, yang bermain dan menaiki punggungnya saat mengimami salat berjamaah. Diceritakan, Nabi merasa perlu memperpanjang sujudnya sampai cucu-cucunya turun dari punggungnya. 


Ada jamaah yang nekad mengintip untuk mencari tahu, mengapa sujud Nabi Muhammad begitu lama, dan melihat leluasanya dua cucu kesayangan itu, bermain-main, seolah menjadikan punggung Nabi sebagai onta tunggangan. Sebagian besar tetap bersujud, meski dengan hati penuh tanda tanya, bahkan takut terjadi apa-apa, sampai Nabi tak kunjung bangun dari sujudnya.


Juga ada cerita bagaimana Nabi Muhammad turun dari mimbar, dan menghentikan khotbah pentingnya, hanya untuk menyongsong cucunya masuk masjid, dan mencoba menenangkannya. Keduanya dibawa ikut ke mimbar, diletakkan ke pangkuannya, dan kemudian Nabi melanjutkan tausyiahnya.


Begitulah, Nabi Muhammad sudah mengajarkan bagaimana menciptakan generasi muda cinta agama, dengan memulainya sejak dini cinta masjid. Jadi, biarlah Abizar Kilimanjaro dan kawan-kawan lebih banyak bermain-main saat berada di masjid. Jangan dimarahi, apalagi sampai menghardiknya. Berilah pengertian selembut mungkin, sesuai perkembangan usia mereka, agar secara psikologis Abi dan teman-temannya menganggap masjid adalah tempat yang nyaman.


Setelah itu, mari berharap Abi Cs, tumbuh, dan terus berkembang menjadi remaja, pemuda, dan individu dewasa, yang cinta pada agama Islam. (NAZIR AMIN/WARTAWAN BORNEONEWS/B-2).