BORNEONEWS, Puruk Cahu - Buruh angkut atau porter lazimnya merupakan pekerjaan kaum pria. Namun, ini tidak berlaku bagi beberapa wanita di Pelabuhan Putir Sikan, tepi Sungai Barito, Kabupaten Murung Raya (Mura). Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, para wanita perkasa ini rela menjadi buruh angkut layaknya kaum pria.

Seperti yang terlihat pada Minggu (4/6/2017) saat Borneonews berkunjung ke pelabuhan sungai itu. Setidaknya ada lima orang wanita diantara puluhan kaum pria yang bekerja sebagai buruh angkut. Tak tanggung-tanggung, yang mereka turunkan dari kapal barang-barang yang tergolong berat seperti karung beras ukuran 60 kilogram.

Menurut Imah, seorang wanita buruh angkut, ia rela menjadi buruh angkut untuk membantu suaminya mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. "Karena suami juga kerjanya serabutan maka tidak ada pilihan lain untuk membantu. Kerja ini (buruh angkut) juga kadang-kadang saja (tidak pasti) sebab pelabuhan ini tidak begitu ramai," ungkap Imah.

Imah menuturkan para wanita buruh angkut ini ikut bekerja memikul beban berat semata-mata karena himpitan ekonomi. "Supaya kami dapat upah, bisa bantu suami, bantu keluarga," kata Imah. (SUPRIADI/B-8)