BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Bulan Ramadan di era 90-an, saat dunia maya belum merajai dunia nyata. Saat anak-anak masih bersilaturahim, bercengkerama dan berinteraksi secara langsung dan bukan hanya memencet keypad telepon pintar.

Saat itulah Loduman alias meriam bambu menjadi hiburan anak-anak di kota Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) jelang berbuka puasa. Permainan meriam bambu ini menggunakan batang bambu sepanjang 1,5-2 meter yang diameternya cukup besar. kemudian sekitar 10 cm dari salah satu ujung bambu, dibuat lubang untuk menyulut meriam.

Menurut MC yang cukup kondang yang juga penyiar Radio Primadona Pangkalan Bun Gusti Misrani (40), permainan itu sangat ngetop di masa itu. Bahkan, sudah seperti ritual tahunan saat Ramadan tiba.

"Biasanya di rongga meriam tersebut diisi minyak tanah atau air karbit. Sehingga bila disulut api maka meriam tersebut akan meledak," ujar pria yang biasa di sapa Aldi ini pada Borneonews Senin (5/6/2017).

Semasa anak-anak saat bermukim di Kelurahan Raja, Aldi dan teman-temannya selalu memainkan permainan ini saat ramadan. "Namun saat ini rasanya sudah tidak ada lagi anak-anak yang memainkan permainan tersebut. Jika tidak disuruh pulang oleh orang tua, biasanya anak-anak bisa lupa waktu saat berperang loduman," ujarnya.

Menurut Aldi, salah satu penyebab hilangnya permainan ini karena susahnya mencari bahan baku bambu. Sehingga, permainan loduman seakan sudah punah dan hanya tinggal cerita saja. Berbeda waktu ia masih kecil, bambu sangat mudah dicari. Termasuk bambu-bambu berukuran besar.

"Salah satu tempat untuk mencari bambu untuk membuat loduman adalah Sungai Bamban. Biasanya saya bersama dua hingga tiga orang teman mencari bambu tersebut disana. Zaman berganti, saat ini bila ingin memainkan loduman, rasanya sudah sangat sulit mencari bambu diameter besar ini," ujarnya. (WAHYU KRIDA/B-8)