BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) cenderung melemah karena sudah mencapai level tertinggi serta penurunan akan terjadi merespons pulihnya produksi dan meningkatnya panen produk substitusi.

Tim riset Samuel Sekuritas menuturkan, secara global produksi CPO tahun ini relatif meningkat, diperkirakan naik 10%-15% menjadi 65 juta ton, didorong oleh pulihnya kondisi cuaca.

Dalam jangka pendek, harga CPO mungkin mengalami rebound karena faktor Lebaran sementara sebelum harga cenderung terkoreksi lagi pada semester kedua tahun ini.

Dengan kondisi seperti ini, Samuel melihat PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) akan mencatat margin relatif flat pada kontribusi Divisi Minyak & Lemak Nabati (EOF). Menurut Samuel, kontribusi EOF tetap menjadi kontribusi utama pertumbuhan Salim Ivomas sepanjang tahun ini.

Penjualan EOF yang meningkat 66% pada kuartal I 2017 dengan merek yang relatif kuat di pasar, SIMP mampu membukukan margin lebih tinggi hingga 3% di antara para pesaingnya.

"Namun kami estimasikan harga rata-rata CPO di 2017 yang lebih tinggi 4% yoy dapat menekan margin EOF," demikian ulas tim riset Samuel di Jakarta, Jumat (9/6).

Sayangnya, SIMP tidak mampu menurunkan biaya produksi, sehingga akan meningkatkan harga jual kepada konsumen serta tingginya kompetisi di segmen industri hilir kelapa sawit dalam negeri membuat SIMP harus lebih waspada.

Kendati demikian, Samuel melihat prospek positif perusahaan dalam jangka panjang, lebih dikontribusikan dari divisi perkebunan. Seiring dengan peningkatan produksi kelapa sawit, SIMP tengah dalam tahap pembangunan tiga Pabrik Kelapa Sawit (PKS), di mana dua PKS akan selesai pada 2018 dan satu PKS akan selesai pada 2019.

Dengan demikian, pertumbuhan produksi SIMP dalam beberapa tahun ke depan, Samuel memperkirakan akan mencapai 8% per tahun. Hal ini yang nantinya diasumsikan kontribusi perkebunan terhadap total pendapatan dapat mencapai 40%.

"Harga CPO yang cenderung melemah ke depannya terutama setelah Lebaran usai, pertumbuhan pendapatan divisi EOF yang relatif lebih lambat, serta kenaikan harga saham yang sudah relatif tinggi mendorong kami untuk mengubah rekomendasi menjadi hold," paparnya.

Namun demikian, target harga tetap Rp600, dengan PE sebesar 12,8 kali.

Samuel mengubah rekomendasi menjadi 'hold' merespons pertumbuhan pendapatan SIMP secara konsolidasi akan relatif lebih lambat, dan harga saham yang sudah tinggi (naik 23% YTD) dan membatasi potential upside. (NEDELYA RAMADHANI/m)