BORNEONEWS, Palangka Raya – Safari Ramadan dan buka puasa bersama Forkopimda di Polda Kalteng,  Jumat (9/6/2017) petang, berlangsung meriah namun penuh kekhusyukan.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya Ibnu AS Pelu didapuk menjadi penceramah pada acara yang dipusatkan di gedung kerucut Polda Kalteng itu.

Ibnu Elmi dalam tausiyahnya menekankan kewajiban puasa sesungguhnya tidak hanya bagi manusia. Beberapa makhluk hidup lainnya juga melakukan puasa sebelum mendapatkan kualitas dan kelangsungan hidupnya. Sebagai contoh induk ayam. Induk ayam harus berpuasa saat sedang mengeram hingga berhasil mengubah telur menjadi anak ayam.

Namun, kata Ibnu, di antara sekian banyak puasa hewan yang dapat diambil pelajaran agar puasa manusia mencapai derajat takwa, ialah puasanya ular dan ulat.

Pertama puasa ular. Agar ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu yang harus dilakukan ialah harus mengganti kulitnya secara berkala. Tidak serta merta ular bisa menanggalkan kulit lama. Ia harus berpuasa tanpa makan dalam kurun waktu tertentu. Setelah puasanya tunai, kulit luar terlepas dan munculah kulit baru.

“Hikmahnya, wajah ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Nama ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama yakni ular. Makanan ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Cara bergerak sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Dan tabiat dan sifat sebelum dan sesudah puasa tetap sama,” ungkap Ibnu.

Kedua, puasa ulat. Ulat termasuk hewan paling rakus. Karena hampir sepanjang waktunya dihabiskan untuk makan. Tapi begitu sudah bosan makan, ia melakukan perubahan dengan cara berpuasa. Puasa yang benar-benar dipersiapkan untuk mengubah kualitas hidupnya. Karenanya, ia mengasingkan diri, badannya dibungkus rapat dan tertutup dalam kokon sehingga tidak mungkin lagi melampiaskan hawa nafsu makannya.

“Setelah berminggu-minggu puasa, maka keluarlah dari kokon seekor makhluk baru yang sangat indah bernama kupu-kupu. Hikmahnya adalah wajah ulat sesudah puasa berubah indah mempesona. Nama ulat sesudah puasa berubah menjadi kupu-kupu. Makanan ulat sesudah puasa berubah menghisap madu. Cara bergerak ketika masih jadi ulat menjalar, setelah puasa berubah terbang di udara,” lanjutnya.

Selanjutnya, tabiat dan sifat berubah total. Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam pemakan daun. Begitu menjadi kupu-kupu menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu penyerbukan bunga.

“Jadi, jangan jadi puasanya ular tetapi jadilah puasanya ulat. Ini adalah perumpamaan, bahwa puasa harus mengantarkan manusia bisa hijrah ke yang lebih baik, yaitu derajat muttaqin atau insan yang bertakwa, sesuai tujuan ditunkannya perintah puasa di al quran,” tutupnya. (ROZIQIN/B-3)