BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Aktivis lingkungan hidup Basuki Budi Santoso menduga peristiwa kematian massal ikan di Sungai Merundau, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), akibat kadar oksigen dalam air turun drastis.
Penurunan oksigen diduga akibat adanya pencemaran limbah. Meski demikian, ia menyebut asumsi tersebut perlu dibuktikan melalui uji laboratorium. "Mudah saja membuktikannya, ambil sampel air dan ikan yang mati untuk diuji laboratorium. Limbah cair yang masuk sungai biasanya bertahan lama," ujar Basuki kepada Borneonews, Minggu (11/6/2017).
Terkait bukti rekaman video dan foto ikan mati, sambung Basuki, bisa dijadikan bukti permulaan atau indikasi awal pencemaran air sungai.
Aktivis yang tergabung dalam Friends of the National Parks Foundation (FNPF) itu menyebutkan, matinya ikan di Sungai Merundau karena penurunan dratis oksigen yang sudah melampaui tingkat kritis atau batas toleransi ikan.
Menurutnya, disolved oxygen (DO) normal yang dibutuhkan ikan rata-rata 2-3 part per millimeter (ppm). Jika kurang dari itu, ikan tidak akan mampu bertahan hidup di air sungai tersebut. "Jika benar ikan mati itu akibat limbah cair, butuh waktu lama untuk memulihkannya," ucap Basuki.
Sementara itu, Budiansyah, warga yang tinggal di sekitar Sungai Merundau, Desa Gandis, Kecamatan Arut Utara, menduga penurunan kadar oksigen di Sungai Merundau dan sekitarnya akibat kebocoran limbah cair milik pabrik kelapa sawit (PKS) PT Bangun Jaya Alam Permai (BJAP) II. Terutama setelah adanya bukti rekaman video dan foto mengalirnya limbah perusahaan tersebut ke sungai.
"Kondisi itu menyebabkan tingkat pencemaran di Sungai Merundau sudah pada tahap yang kritis," ucap Budiansyah.
Ia mengaku, sebelum anak perusahaan Best Agro Plantation itu berdiri, kondisi air sungai sangat jernih dan tidak pernah kematian ikan massal. "Dulu sangat jernih, sekarang lihat saja sendiri kondisinya," sebut dia. (FAHRUDDIN FITRIYA/B-3)








