BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pulihnya produksi minyak sawit mentah (CPO) pada Mei secara year on year (y-o-y) sudah diperkirakan sejumlah analis, meski stok hingga akhir Mei 2017 lebih rendah dari perkiraan.
Berdasarkan statistik terbaru Malaysia Palm Oil Board (MPOB), produksi CPO selama Mei mencapai 1,65 juta metrik ton (MT), atau naik 21,2 persen dari 1,36 juta MT pada tahun sebelumnya.
Pemulihan produksi CPO itu sudah diperkirakan oleh lembaga riset Affin Hwang Investment Bank Bhd (AffinHwang Capital) setelah dampak El Nino mereda.
Menurut lembaga riset MIDF Amanah Investment Bank Bhd (MIDF Research), seperti dilansir The Star, produksi CPO pada Mei meningkat 21 persen y-o-y, yang menunjukkan bahwa tanaman sawit sudah benar-benar pulih dari dampak El Nino yang menyerang sejak 2015 lalu. Tren peningkatan produksi ini diestimasikan akan berlanjut hingga kuartal III 2017.
Namun demikian, stok minyak sawit Malaysia hingga akhir Mei tercatat sebesar 1,56 juta MT, yang lebih rendah dari estimasi MIDF Research yang sebanyak 1,6 juta MT dan estimasi konsensus 1,61 juta MT.
Dari Indonesia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan Indonesia masih menjadi produsen minyak sawit nomor satu dunia dengan produksi pada tahun lalu mencapai 34,5 juta ton.
"Produksi tersebut terdiri dari crude palm oil (CPO) sebesar 31,5 juta ton dan produksi palm kernel oil (PKO) sebesar 3 juta ton," kata Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan, di Jakarta, belum lama ini.
Untuk 2017, produksi dan panen sawit Indonesia diperkirakan akan membaik, dibandingkan dengan musim panen tahun lalu yang mencapai 34 juta ton, atau 54 persen dari pasokan global, demikian data dari Departemen Pertanian AS yang dirilis awal pekan ini.
Sejumlah proyeksi untuk industri sawit mematok produksi CPO di kisaran 33 juta hingga 35 juta ton seiring dengan peningkatan produksi pada semester kedua, atau meningkat sekitar 10 persen dibandingkan raihan tahun lalu.
Data yang direvisi dari GAPKI menyebutkan produksi CPO pada 2016 tumbuh 10 persen menjadi 32,5 juta ton, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya yang sebesar 30 juta hingga 32 juta ton.
Sementara itu, penjualan ekspor Indonesia tahun lalu dari CPO tumbuh 8 persen menjadi US$17,8 miliar, meski terjadi penurunan dalam volume sebesar 2 persen menjadi 25,7 juta ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








