BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ratifikasi Kesepakatan Paris tentang Perubahan Iklim yang dilakukan Tiongkok akan segera dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai pemasok minyak sawit terbesar dunia.
Dengan ratifikasi tersebut, maka Tiongkok butuh pengurangan emisi karbon 60-65 persen per unit GDP hingga 2030. Itu artinya, negeri berpenduduk terbesar di dunia itu akan membutuhkan lebih banyak bahan bakar non-fosil.
Kesiapan Indonesia untuk memenuhi permintaan biodiesel dari Tiongkok diungkapkan sendiri oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, yang tengah berada di Beijing, Tiongkok, untuk membahas masalah ini.
Untuk diketahui, pasokan biodiesel ke Tiongkok selama ini dilakukan oleh Malaysia, sementara Indonesia belum mendapatkan akses ke sana.
Berdasarkan data di Kemenko Kemaritiman, Indonesia memiliki persediaan sekitar 10 juta ton biodiesel yang belum terpakai.
Dalam upaya pemanfaatan energi non-fosil itu, Tiongkok memproyeksikan lima persen menggunakan bahan bakar biodiesel.
Dalam kunjungan ke Tiongkok, delegasi Indonesia mengajukan beberapa tawaran, di antaranya perusahaan di Indonesia membangun pabrik pengolahan dan mengekspor kelapa sawit ke Tiongkok. Kemudian minyak kelapa sawit tersebut diolah di beberapa pabrik pengolahan minyak kelapa sawit menjadi biodiesel di Tiongkok.
Bisa juga perusahaan Tiongkok melakukan investasi di pabrik pengolahan minyak kelapa sawit di Indonesia dan mengolahnya menjadi biodiesel untuk selanjutnya diekspor ke Negeri Tirai Bambu. Alternatif lain adalah mendirikan proyek bersama sejumlah perusahaan dari berbagai bidang industri untuk meningkatkan penggunaan biodiesel.
Sementara itu, pelaku industri biodiesel di Tanah Air mengapresiasi kebijakan pemerintah Tiongkok yang menerapkan program biodiesel campuran 5% dengan solar atau B5.
"Penggunaan biodiesel di Tiongkok menjadi pasar potensial untuk meningkatkan ekspor produk sawit Indonesia, terutama biodiesel. Dan pemakaian B5 di Tiongkok akan menciptakan kebutuhan minyak sawit (CPO) sebesar 9 juta ton. Kalau Tiongkok sudah terapkan B5, tidak peduli lagi kita ekspor dengan Eropa dan Amerika Serikat," kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), MP Tumanggor, di Jakarta, belum lama ini.
Angka permintaan 9 juta ton ini berasal dari perhitungan kebutuhan bahan bakar solar Tiongkok sebesar 180 juta Kl. Apabila dikalikan 5% sama dengan 9 juta Kl atau setara 9 juta ton. Tahun lalu, ekspor produk sawit Indonesia ke Tiongkok mencapai 3,8 juta ton.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan Indonesia masih menjadi produsen minyak sawit nomor satu dunia dengan produksi pada tahun lalu mencapai 34,5 juta ton. Produksi tersebut terdiri dari crude palm oil (CPO) sebesar 31,5 juta ton dan produksi palm kernel oil (PKO) sebesar tiga juta ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








