BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Menjelang berakhirnya Ramadhan dan bersiap merayakan hari raya Idul Fitri, harga minyak sawit mentah (CPO) bergerak menguat. Apa pemicunya?

Pada perdagangan Jumat (16/6), harga minyak sawit mentah (CPO) dibuka di level 2.532, level tertinggi dalam sepekan, sekaligus melanjutkan kenaikan pada sesi sebelumnya.

Kenaikan harga CPO tersebut berkat dukungan dari kecemasan investor terhadap pertumbuhan produksi minyak sawit, terutama di Indonesia dan Malaysia.

"Kenaikan harga minyak sawit pada hari ini juga berpeluang mendapatkan dukungan dari pelemahan mata uang ringgit terhadap dolar AS," kata analis PT Monex Investindo Futures, Faisyal, dalam risetnya di Jakarta, Jumat.

Menurut Faisyal, produksi minyak kelapa sawit berpotensi turun pada periode Juni karena para pekerja cuti selama bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, yang menyebabkan sedikitnya pekerja yang memanen minyak sawit.

Ia mengatakan bahwa secara teknikal, harga minyak sawit memiliki level resisten terdekat di 2.560, dan bila menembus ke atas dari level tersebut, harga berpotensi untuk naik lebih lanjut menguji resisten kuat di 2.590.

"Untuk level support terdekat terlihat di area 2.500, dan jika menembus ke bawah dari zona tersebut, maka harga dapat bergerak bearish lebih lanjut menguji support selanjutnya di 2.470," ungkapnya.

Sementara itu, mata uang ringgit pada pukul 11:00 WIB terpantau melemah sekitar 0,3% di level 4,2270. Mata uang ringgit yang lebih lemah dapat membuat harga minyak sawit lebih murah untuk pemilik mata uang lainnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)