BORNEONEWS, Palangka Raya – Agama islam mengajarkan pemeluknya untuk memiliki jiwa sosial tinggi. Pada harta yang kita miliki ada hak orang tidak mampu terutama anak yatim. Bahkan perintah Allah SWT, barang siapa menyia-nyiakan anak yatim termasuk orang yang mendustakan agama.

“Kalau tidak ingin dicap Alloh sebagai yang mendustai agama, jangan sia-siakan anak yatim. Jangan memungut makanan (hak) yang sebenarnya milik orang miskin. Ini perintah Allah dalam surat Al-Ma’un,” ungkap Noor Muslim, saat memberi tausiyah pada buka puasa bersama angkatan muda partai golkar (AMPG) Golkar di jalan Imam Bonjol Palangka Raya, Sabtu (17/6/2017).

Dalam kesempatan ini, AMPG Kalteng mengundang sedikitnya anak yatim Palangka Raya dan sejumlah anak panti asuhan serta puluhan warga tidak mampu atau kaum dhuafa. Meraka diberikan santunan dan paket sembako dalam rangka berbagi di bulan suci ramdan dan menyongsong Idul Fitri 2017.

Peringatan Allah berikutnya, lanjut Noor Muslim, adalah jangan melalaikan sholat. Sebab banyak sekali orang yang kelihatannya secara fisik melaksanakan sholat tetapi sebenarnya ‘dibukukan’ Allah sebagai orang yang lalai akan sholat dan dihukum Allah sebagai orang yang celaka.

“Celakalah orang yang shalat, kata Allah, bagi mereka yang lalai. Kenapa masih dicap sebagai oang yang lalai dalam salat? Karena tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dengan niat menghamba, sering menunda-nunda dan sebagainya,” kata dosen IAIN Palangka Raya ini.

Surat Al-Ma’un ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang munafik; karena mereka selalu memamerkan salat mereka di hadapan orang-orang mukmin secara ria, sewaktu orang-orang mukmin berada di antara mereka. Tetapi jika orang-orang mukmin tidak ada, mereka meninggalkan salat.

Dalam ayat-ayat ini Allah mengungkapkan satu ancaman yaitu celakalah orang-orang yang mengerjakan salat dengan tubuh dan lidahnya tidak sampai ke hatinya. Dia lalai tidak menyadari apa yang diucapkan lidahnya dan yang dikerjakannya oleh sendi anggotanya. Ia rukuk dan sujud dalam keadaan lengah, ia mengucapkan takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkannya.

Semua itu adalah hanya gerak biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa, tidak ubahnya seperti robot. (ROZIQIN/B-11)