BORNEONEWS, Sampit - Bagi sebagian orang, bekerja tentunya ingin mendapatkan hasil yang sudah ditentukan atau mendapatkan upah yang sesuai dan bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun hal itu tidak berlaku bagi pekerjaan sebagai porter atau penyedia jasa mengangkut barang penumpang kapal di pelabuhan. Karena mereka bekerja tidak menenetu penghasilannya. Bahkan terkadang tidak mendapatkan upah sama sekali.
Seperti yang dikatakan Alimansyah, salah satu porter di Pelabuhan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di mana ia terpaksa menjadi seorang porter karena ingin memenuhi kebutuhan hidup istri dan kedua anaknya. Walaupun terkadang hasil yang didapat tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap bekerja.
"Kalau ditanya penghasilan, tentu sangat tidak mencukupi. Karena terkadang hanya mendapatkan Rp50 ribu, bahkan tidak dapat uang sama sekali," ujar Alimansyah, Kamis (22/6/2017).
Pria yang tinggal di Gg Intan Sari, Kecamatan Baamang, Kotim ini menceritakan bahwa dirinya memilih menjadi porter untuk mendapatkan uang. Namun kenyataan di lapangan terkadang tidak sesuai dengan pemikirannya. Karena dirinya hanya akan mendapatkan uang kalau penumpang sedang ramai atau kapal yang sandar di Pelabuhan Sampit cukup banyak.
"Kalau penumpang banyak dan negonya pas maka uang yang didapat bisa mencapai Rp150 ribu. Namun kalau cuma satu kapal dalam sehari, terkadang tidak mendapatkan hasil apa-apa," kata Alimansyah.
Upah bisa saja mencapai Rp200 ribu, kalau penumpang yang memakai jasanya langsung meminta carikan tempat. Namun hal itu cukup jarang. Apalagi saat ini penumpang kapal dibatasi dan semunya akan mendapatkan tempat.
Sedangkan, mereka akan mendapatkan uang yang lebih hanya pada saat musim mudik lebaran seperti saat ini. Karena secara otomatis, pemudik akan membeludak, dan tentu banyak dari mereka yang membutuhkan jasa porter.
"Kalau hari biasanya sangat sepi, namun kalau arus mudik seperti ini ya Alhamdulillah bisa dapat lebih lah," terang Alimansyah.
Sementara, dirinya tidak menjadikan pekerjaan porter ini sebagai pekerjaan tetap. Karena dalam sehari-harinya, ia juga bekerja sebagai tukang parkir. Dia akan kembali menjadi porter kalau ada kapal roro dan DLU yang sender di Pelabuhan Sampit. Sedangkan dia menjadi porter sudah lima tahun terakhir. Dan walaupun terkadang tidak mendapatkan hasil, dia tetap menikmati pekerjaan tersebut.
"Kalau ditanya ingin bekerja di kantoran dengan gaji yang tetap tentu saya sangat mau. Namun apa boleh buat, karena hanya pekerjaan ini yang bisa saya dapatkan dalam sementara ini. Dan mudah-mudahan kedepan saya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak," harap Alimansyah. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








