BORNEONEWS, Palangka Raya - Beberapa hari jelang Lebaran, masih ditemukan banyak produk kedaluwarsa. Temuan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kalimantan Tengah itu mengindikasikan para pedagang teledor dalam mengawasi barang jualan mereka.
Kepala BPOM Kalteng Trikoranti Mustikawati saat dimintai konfirmasi mengatakan, pihaknya terus melakukan pengawasan distribusi produk kemasan, terutama bahan makanan dan makanan jadi. Pengawasan dilakukan sejak awal Ramadan hingga saat ini.
“Masih ditemukan produk kedaluwarsa saat kita melakukan pengawasan di lapangan. Konsen kita ke produk olahan. Kalau sebelum atau jelang Ramadan, pengawasan pada produk pangan takjil dan pangan yang beredar,” kata dia.
Ia melanjutkan, produk kedaluwarsa ditemukan di empat sarana distribusi. Jenisnya minuman cair dalam kotak atau botol, minuman bentuk serbuk, keju, dan beberapa makanan ringan. “Semuanya punya izin edar, tetapi kemasannya rusak dan ada yang sudah kedaluwarsa,” imbuhnya.
Ia juga mengakui, jelang Hari Raya banyak beredar penawaran paket parsel dari sejumlah toko biasa, toko modern, hingga swalayan. Temuan di lapangan, ada bahan pangan yang dimasukkan dalam kemasan parsel telah melebihi usia pakai atau batas kedaluwarsa. Padahal, batas minimal parsel harus minimal satu tahun.
Diduga, pembuat parsel memanfaatkan barang yang dijual dengan harga murah di tempat grosiran karena batas kedaluwarsa sudah mepet. Dengan demikian, keuntungan yang diraup lebih menggiurkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalteng Katma F Dirun mengatakan, pihaknya serius memberikan teguran kepada pengusaha parsel dan pihak swalayan yang kedapatan melakukan pelanggaran seperti yang diatur BPOM.
“Kita tidak main-main. Karena ini produk pangan yang pasti memliki batas toleransi boleh tidaknya dimakan manusia. Begitu dapat, kita langsung musnahkan di depan pengusaha swalayan. Seperti yang kemarin kita lakukan,” kata Katma kepada Borneonews, Kamis (22/6/2017) malam. (ROZIQIN)








