BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Ribuan peziarah memadati kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sekip, warga dari segala penjuru Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) ini sejak pagi hari sudah mendatangi pemakaman terbesar di jantung Kota Pangkalan Bun pada lebaran ke dua Idul Fitri 1438 Hijriyah, Senin (26/6/2017).
Tradisi berziarah ke sanak famili pada lebaran Idul Fitri sudah hidup dan berkembang sejak lama di bagi warga Kobar.
Kehadiran ribuan peziarah di makam umum Sekip tentunya berdampak ekonomi bagi warga lainnya, setiap tahun kawasan luar area TPU menjadi pasar tiban, pasar tiban ini membawa berkah pada segelintir masyarakat.
Beraneka ragam dagangan digelar, dari kuliner yang merakyat seperti pecal, aneka kue, pentol bakso, sate dan makanan lainnya. Selain itu, tidak ketinggalan disetiap momen tertentu pedagang ini selalu hadir, apalagi kalau bukan pedagang mainan anak-anak.
Namun ada ciri khas yang tidak bisa dikesampingkan, karena bagi sebagian peziarah merupaka keharusan membeli barang yang satu ini, yaitu kembang setaman.
Noor Hasanah, salah satunya, warga Kelurahan Madurejo ini sudah berjualan kembang di area Sekip sudah belasan tahun, menurutnya pada hari biasa ia berjualan satu kantong plastik kecil kembang seperti mawar dan melati ia hargai Rp1500, sementara kembang lainnya seharga Rp1000, namun pada momen lebaran ia menaikan harga menjadi per kantong kembang biasa Rp5 ribu dan Mawar, Melati hingga Rp10 ribu.
"Tidak bisa menjadi patokan, biasanya tergantung peziarah mau beli berapa tinggal kami ja pedagang yang menyesuaikan," kata Noor Hasanah, Senin (26/6/2017).
Saat ditanyai Borneonews berapa omzet pada momen lebaran ia enggan mengakuinya, menurutnya tak elok untuk diungkap rezeki yang diberikan Allah SWT melalui peziarah.
Sementara itu, Margawati salah seorang peziarah mengatakan tradisi ziarah kubur bagi keluarganya bukan hanya dilakukan pada momen lebaran saja, ia mengaku setiap hati Jumat pagi bersama ibunya selalu berziarah ke makam ayahnya yang meninggal sejak tahun 2010 lalu.
Namun, ziarah pada saat lebaran merupakan momen yang spesial karena saat itu seluruh keluarga besarnya berkumpul, momen yang hanya ia temui saban setahun sekali.
"Saat lebaran inilah momen paling spesial bagi kami sekeluarga karena kami bisa berkumpul dan berziarah bersama mendatangi makam ayah saya serta nenek dan keluarga lainnya, kami juga sekaligua dapat bersilaturahni dengan sesama peziarah," ujar Marga. (KOKO SULISTYO/B-5)








