BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Manajemen Citra Borneo Indah (CBI) Group menyediakan program selektif orientasi dalam perekrutan personil, terutama dalam menjaring SDM lokal. Untuk pengembangan usaha bidang industri hilir, konglomerasi milik Haji Abdul Rasyid itu, memberi kesempatan seluas-luasnya bagi putra terbaik Kalimantan Tengah untuk bergabung.
"Program tersebut didedikasikan agar lebih banyak SDM lokal yang terjaring dan bisa bergabung bersama kami," kata Human Resources Director Citra Borneo Indah Group, Budi Setiawan kepada Borneonews, Senin (3/7/2017).
Budi Setiawan didampingi Asroji (Recruitmen Downstream), Hardi Harmen (Manager Quality Assurance) dan Koordinator Corporate Social Responsibility (CSR) CBI Group, Kharis Nuryanto, menjelaskan pentingnya program baru itu. Program Selektif Orientasi itu, sengaja dibuka untuk menjamin sumber daya manusia (SDM) Kotawaringin Barat, atau Kalimantan Tengah pada umumnya bisa bergabung bersama tenaga kerja dari seluruh Tanah Air.
Untuk pengembangan usaha, melalui PT Surya Borneo Industri (SBI), dan PT Citra Borneo Utama (CBU), CBI Group berekspansi di bidang industri hilir, di kawasan Tempene, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Di atas lahan seluas 100 hektare, mereka membangun Kawasan Industri Surya Borneo Industri.
Lewat downstream industri berbahan baku utama crude palm oil (CPO), dalam tahap awal CBI Group menggarap refinery & fractionation, oleo chemical, biodiesel, power plant dan lain sebagainya. Intinya, gurita bisnis H. Abdul Rasyid menggeluti industri hilir minyak kelapa sawit, yang akan menghasilkan produk industri berdaya saing tinggi, dengan menyasar pasar ekspor.
Dalam upaya hilirisasi industri CPO itu, anak-anak usaha CBI Group itu, kata Budi Setiawan membutuhkan putra terbaik Kalteng, yang siap kerja di bawah tekanan, dengan disiplin tinggi. Perseroan membutuhkan tamatan SMK sederajat/D III/S 1 sejumlah bidang. Antara lain, Elektro, Instrumentasi, Kimia, Teknik Mesin, Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Lingkungan, Teknik Pangan, dan Akuntansi.
"Sayangnya dalam rekruitmen resmi, tidak banyak SDM lokal yang terjaring. Ada banyak faktor penyebabnya, di antaranya mereka melamar di luar bidang yang dibutuhkan," kata mantan Head Training & Development Indo Rayon, RGM Group (Februari 1994–November 2000) itu.
Untuk memuluskan masuknya SDM lokal, pola rekruitmen diubah. Melalui Program Selektif Orientasi itu, semua SDM 'dalam negeri' diundang mengikutinya. Mereka dipersilahkan mengikuti tahapan yang menjadi semacam kawah candradimuka bagi SDM lokal menempa diri.
Di situ, selama maksimal dua bulan mereka menjalani pendidikan sikap mental untuk mengenal budaya, visi dan misi perusahaan, agar siap kerja dengan pola pikir baru dunia profesional. Selama masa orientasi ini, SDM lokal mendapat pengetahuan tentang budaya perusahaan, sikap mental, fisik, disiplin, knowledge, dan lain sebagainya.
Termasuk dalam bersikap terhadap rekan kerja, sikap hormat terhadap pimpinan, dan orang yang lebih tua. Intinya, mereka mendapat pengetahuan dalam bersikap sehari-hari agar memiliki attitude, dengan tujuan dapat membawa diri dalam lingkungan baru, dan dunia kerja, dunia profesional.
"Untuk mengikuti program ini, tidak perlu mengikuti test masuk, yang harus melalui seleksi awal, seperti dalam penerimaan pegawai baru," kata Asroji
Manager Quality Assurance, Hardi Harmen menjelaskan, dalam angkatan pertama program Selektif Orientasi, sudah ditempa sebanyak 38 orang dari target 50 SDM lokal tamatan SLTA/SMK. Selama mengikuti masa orientasi itu, meski belum resmi menjadi karyawan mereka mendapat ongkos transport, dan makan, selain insentif bulanan jika dinyatakan lolos mengikuti program tersebut.
Setelah sukses mengikuti program Selektif Orientasi, yang sebenarnya sudah bisa diketahui dalam dua minggu pertama, mereka dipersilahkan menjalani masa manajemen training. Jika lolos training selama sekitar 3 bulan ini, otomatis diangkat sebagai karyawan dalam lingkup Grup CBI, dengan hak dan kewajiban sesuai ketentuan yang berlaku.
Kawasan Industri SBI
Jaringan bisnis Haji Abdul Rasyid AS sedang ngebut menyelesaikan megaproyek Kawasan Industri Surya Borneo Industri (SBI) berbiaya hampir Rp7 triliun. Di atas areal seluas 100 hektare, di Tempene, pemilik Citra Borneo Indah (CBI) Group, dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) itu, membangun industri hilir sawit sejak 2014. Dengan begitu, Kelak CBI Group menjadi pemain industri sawit dari hulu ke hilir.
Dalam wawancara dengan Borneonews, bulan lalu, Head of Downstream Project CBI Group, Rudy Ferdinand Bokslag mengungkapkan, CBI Group akan jadi pengekspor produk jadi berbagai turunan minyak kelapa sawit. Jadi, nantinya, bukan lagi penyuplai Crude Palm Oil (CPO), atau minyak kelapa sawit.
Dengan biaya sekitar Rp7 triliun, kawasan industri berbahan baku Crude Palm Oil atau minyak kelapa sawit itu, akan melahirkan berbagai produk turunan CPO. Nantinya, CBI Group masuk industri hilir, seperti sedang digalakkan pemerintah. Itu berarti pengusaha asal Kalteng Haji Abdul Rasyid akan menggenapkan usahanya dengan mengelola industri sawit dari hulu sampai ke hilir.
Rudy menjelaskan, dalam Kawasan Industri CBI Group di Tempene, yang digarap sejak 2014 itu, sedikitnya ada empat perusahaan: PT Surya Borneo Industri (SBI), sebagai pemilik areal industri.
Lalu, PT Citra Borneo Utama (CBU), yang memproduksi minyak goreng (olein) dan stearin. Rudy menyebutkan, akhir tahun ini, minyak goreng kemasan CBI Group sudah diproduksi, dan memasuki tahapan komersial awal 2018. Saat itu, minyak goreng kemasan dengan brand sendiri milik CBI Group sebagian besar akan dilempar ke pasar ekspor, lainnya untuk pasar domestik.
Berikutnya, PT Citra Borneo Energy (CBE), yang bakal melahirkan produk Biodiesel dan Glycerin. Terakhir, PT Citra Borneo Chemical (CBC), yang menghasilkan fetty acids, fatty alcohol dan produk oleo chemical lainnya. Semua itu akan membuat CBI Group memproduksi tidak saja minyak goreng, tetapi juga biodiesel untuk kebutuhan energi, sampai bahan baku plastik, sabun, kosmetik, obat-obatan, dan sebagainya.
Bagusnya, sebagai pemain lama bisnis dan industri sawit, dengan kepemilikan kawasan perkebunan kelapa sawit, dan pabrik CPO, Kawasan Industri SBI, tidak bakal kerepotan dengan bahan baku. Seluruh kebutuhan minyak kelapa sawit, 2.500 ton per hari untuk operasional Kawasan Industri di Tempene itu, bisa dipenuhi dari jaringan CBI Group dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (NAZIR AMIN/B-2).








