BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas memprogramkan pengembangan tanaman padi nasional inbrida tadah hujan dengan luas lahan 1.500 hektare.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kapuas, Jarwadi, mengungkapkan penanaman padi inbrida akan direalisasikan pada musim tanam Oktober-Maret 2017 di kecamatan yang memiliki lahan sawah tadah hujan.

“Penanaman padi inbrida ini hanya untuk kecamatan yang memiliki lahan sawah tadah hujan. Sedangkan di lima kecamatan seperti Timpah, Kapuas Tengah, Pasak Talawang, Mandau Talawang, dan Kapuas Hulu tidak dilaksanakan,” katanya, Selasa (4/7/2017).

Tidak dilaksakannya pengembangan padi nasional inbrida di lima kecamatan di wilayah hulu Kabupaten Kapuas tersebut karena memang tidak ada usulan. “Padahal sebelum program ini masuk kami sudah menawarkan kepada para mantri tani perwakilan kecamatan, namun sepertinya tidak ada yang mau," ucap Jarwadi.

Masalahnya kalau hanya dibantu benih tidak mungkin bisa dilaksanakan. Karena petani di lima kecamatan itu rata-rata memiliki usaha lain yang lebih menjanjikan seperti menambang emas atau lainnya. Sedangkan dalam program ini bantuan dari pemerintah pusat hanya untuk benih.

Namun demikian, Dinas Pertanian Kapuas tetap melaksanakan program pertanian di lima kecamatan itu yakni melalui budidaya pertanian terpadu dengan cara memadukan padi lahan kering dengan tanaman holtikultura.

“Jadi, tanaman padi di tengahnya kita tumpang sarikan dengan tanaman buah-buahan seperti jeruk, rambutan, dan buah sirsak yang tentunya merupakan peluang usaha,” sebutnya.

Untuk tahap pertama, program pertanian terpadu itu akan direalisasikan di atas lahan seluas 30 hektare. “Tahun ini kita coba 30 hektare dulu, nanti pada 2018 kita naikan menjadi 50 hektare dan sampai 2020 minimal 100 hektare. Jadi untuk kegiatan ini kami akan bergandengan dengan bagian holtikultura untuk mengawalnya,” kata dia. (HAMDI/B-3)