BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meski mencatat penguatan pada perdagangan awal pekan ini, namun harga minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan akan tertahan lajunya memsuki semester kedua tahun ini.

Pasalnya, tren peningkatan produksi diprediksi terjadi mulai Juli atau Agustus 2017 setelah dalam sebulan terakhir menurun karena libur Lebaran.

Selain itu, tim analis dari AmInvestment Bank dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/7), mengatakan bahwa selain faktor peningkatan produksi, beberapa faktor lain juga ikut berperan dalam menekan harga CPO, yaitu potensi penurunan permintaan dari Tiongkok dan India, yang merupakan dua negara berpenduduk terbesar dunia.

"Kami yakin Tiongkok telah melakukan pencadangan ulang untuk minyak sawit. Dan juga, permintaan biasanya melemah selama musim panas. Untuk itu, pembelian minyak sawit oleh Tiongkok akan lebih kecil pada semester kedua ketimbang semester pertama 2017," tulis AmInvestment Bank.

Namun demikian, jika harga CPO terus turun, para pembeli dari India kemungkinan kembali ke pasar. Pada April 2017, para pelaku pasar di India mengindikasikan bahwa permintaan melambat karena selisih harga antara CPO dan minyak kedelai tidak terlalu besar.

Yang patut menjadi perhatian juga adalah imbas dari penerapan resolusi sawit Uni Eropa pada 2020 mendatang. Dalam jangka panjang, kebijakan tersebut akan mempengaruhi kinerja industri minyak sawit Indonesia dan Malaysia.

Jika kelak minyak sawit tak diziinkan lagi untuk bahan campuran biodiesel di Uni Eropa, AmInvestment Bank mengatakan para produsen biodiesel akan menggunakan rapeseed dan minyak kedelai untuk bahan baku biodiesel sebagai pengganti minyak sawit. Imbasnya, akan terjadi penurunan permintaan rapeseed atau minyak kedelai untuk industri makanan.

Untuk diketahui, ekspor minyak sawit Malaysia ke Uni Eropa mendatar sejak 2010. Sementara dari Indonesia tumbuh 2,6 persen pada 2015 dan 3,2 persen pada 2016. Adapun Uni Eropa menyerap 12,8 persen dari ekspor minyak sawit Malaysia dan 17,4 persen dari ekspor sawit Indonesia pada 2016. (NEDELYA RAMADHANI/m)