BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Potensi diversifikasi negara tujuan ekspor dan produk olahan minyak kelapa sawit di pasar ekspor masih cukup tinggi untuk meningkatkan kinerja ekspor.

"Sejumlah negara, seperti Tiongkok, membutuhkan produk olahan minyak kelapa sawit untuk biodiesel. Potensi diversifikasi negara tujuan ekspor dan produk olahan CPO di pasar ekspor cukup besar," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, di Jakarta, Rabu (5/7/2017).

Joko mencontohkan, Tiongkok membutuhkan produk olahan minyak kelapa sawit mentah (CPO) untuk biodiesel. Diperkirakan, kebutuhan produk CPO untuk biodiesel itu mencapai 9 juta ton per tahun.

"Saat ini, ekspor produk olahan CPO ke Tiongkok sekitar 3,2 juta pada tahun lalu," papar dia.

Selain itu, lanjut Joko, pasar Afrika juga memiliki potensi yang besar. Sebagai gambaran, ekspor produk olahan CPO ke Afrika tahun lalu mencapai 1,5 juta ton.

"Triwulan I tahun ini, ekspor CPO ke Afrika sebesar 664.000 ton, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 486.000 ton," ujar Joko.

Joko menambahkan, dengan diversifikasi, ekspor produk CPO tidak hanya mengandalkan pasar Eropa. Pasar Timur Tengah dan Iran, termasuk pasar yang potensial karena Iran membutuhkan produk oleochemical.

"Kendalanya, perbankan di Iran tidak bisa menerima letter of credit (LC) untuk transaksi perdagangan internasional," tuturnya.

Berdasarkan data dari GAPKI, produksi produk CPO tahun lalu sebesar 35 juta ton. Volume ekspor produk olahan CPO tahun lalu sebesar 25,11 juta ton dengan nilai US$18,21 miliar. (NEDELYA RAMADHANI/m)