BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Aktivitas menangkap ikan di sungai menggunakan bahan berbahaya dan beracun (B3) termasuk setrum di Sungai Arut, Kabupaten Kotawaringin Barat, semakin mengkhawatirkan. Terutama saat memasuki musim kemarau.
Aktivitas tersebut kian memperparah pencemaran air Sungai Arut yang merupakan lokasi budidaya ikan keramba masyarakat. Bahkan beberapa hari terakhir sejumlah petani keramba mengeluhkan banyaknya ikan budidaya yang mati.
Saat persoalan itu disampaikan ke Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Barat Rusliansyah, ia menjelaskan bahwa fungsi pengawasan yang semula melekat di Dinas Perikanan kabupaten sudah diserahkan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Tengah. Seiring dengan hal itu, Dinas Perikanan Kobar tidak lagi menerima anggaran melalui APBD untuk biaya pengawasan.
Rusliansyah juga menyampaikan bahwa saat ini bukan waktunya lagi membahas mengenai pengawasan terhadap pelaku illegal fishing. Yang dibutuhkan saat ini adalah penindakan terhadap pelaku. "Saat ini yang dibutuhkan adalah bagaimana aksi konkretnya terhadap pelaku illegal fishing," tegas dia.
Namun, upaya penindakan terhadap pelaku illegal fishing terbentur anggaran. Karena pos anggaran dalam APBD untuk penindakan pascaperubahan nomenklatur sudah tidak ada lagi.
Rusliansyah mengaku, menyadari bahwa aksi menangkap ikan dengan cara meracun dan menyetrum tidak ramah lingkungan, terutama terhadap keberlangsungan sumber daya perikanan dalam jangka panjang. Hanya, pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena ketiadaan anggaran.
"Kita akan koordinasikan terlebih dahulu untuk diperbantukan dalam pengawasan terhadap aktivitas illegal fishing," ucapnya.
Pantauan Borneonews, selain mencari ikan dengan menggunakan racun dan setrum dengan sumber listrik dari dinamo, saat ini juga marak masyarakat menyetrum dengan stik yang menggunakan aliran listri PLN. Pelaku menggunakan kabel dengan panjang hingga berpuluh meter.
Setrum listrik PLN tersebut sangat berbahaya. Bahkan baru-baru ini, warga Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, tewas akibat setrum jenis stik ini. (KOKO SULISTYO/B-3)








