BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Cadangan minyak sawit di Indonesia dan Malaysia diprediksi meningkat selama Juni seiring dengan tingginya produksi yang melampaui kinerja ekspor yang melambat, terutama di Malaysia.
Berdasarkan analis yang disurvei Bloomberg, Rabu (5/7), stok minyak sawit Malaysia tumbuh 1,9% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 1,59 juta metrik ton (MT).
Untuk produksi minyak sawit mentah (CPO) turun 0,6% menjadi 1,64 juta ton, penurunan bulanan pertama kalinya sejak Februari. Sedangkan ekspor merosot 8,6% menjadi 1,38 juta ton, yang merupakan penurunan pertama dalam empat bulan terakhir.
Sementara itu, harga minyak sawit terus menunjukkan penurunan pada kuartal kedua tahun ini, dengan harga jatuh dalam enam bulan terakhir. Para pelaku pasar memprediksi produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia akan meningkat pada sekitar September dan Oktober.
Harga minyak sawit bisa terus melemah pada semester kedua 2017 seiring meningkatnya pasokan di pasar dan mulai berkurangnya permintaan menyusul meredanya euforia Ramadan dan Idul Fitri.
“Peningkatan produksi musiman pada semester kedua tahun ini bisa meredam laju penguatan harga hingga menjelang tutup tahun,” kata analis DBS Vickers Securities Tbk, William Simadiputra.
Di sisi lain, selama kuartal I-2017, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia, termasuk biodiesel dan oleochemical, meningkat 23,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada periode tersebut, ekspor minyak sawit Indonesia tercatat sebesar 8,02 juta ton, dibandingkan periode yang sama 2016 yang mencapai 6,49 juta ton. Itu menunjukkan bahwa kinerja ekspor minyak sawit Indonesia tumbuh positif seiring meningkatnya kebutuhan minyak nabati dunia.
Adapun harga minyak sawit ditutup menguat 1,2% menjadi RM2.538 (US$590) per ton di Bursa Malaysia Derivatives, Rabu. Harga minyak sawit telah jatuh 18% selama tahun ini. (NEDELYA RAMADHANI/m)








