BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Perusahaan perkebunan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. terus berkomitmen untuk mengikuti standar praktik berkelanjutan guna meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit.

"Perseroan mengikuti protokol RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) and ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan, di antaranya kebijakan tanpa membakar dalam melakukan kegiatan perkebunan," kata Direktur dan Investor Relations UNSP Andi W. Setianto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (7/7/2017).

Andi mengatakan produktivitas bibit unggul perseroan bisa menghasilkan 35 ton buah sawit per hektar dan ekstraksi CPO sebesar 23 persen, atau sekitar delapan ton CPO per hektar per tahun, sesuai hasil lapangan bibit unggul perseroan yang sudah disertifikasi.

"Dengan bibit unggul, luas lahan kebun tidak perlu bertambah tapi menghasilkan produksi CPO berlipat ganda sehingga meningkatkan lagi produksi biodiesel untuk ketahanan energi nasional," ujarnya.

Perseroan melihat bibit unggul dan pendampingan petani pemilik lahan pertanaman sawit nasional kurang lebih empat juta hektar adalah kunci produktivitas berkelanjutan sawit sebagai komoditas strategis nasional.

"Bibit unggul dan pendampingan petani pemilik lahan pertanaman sawit nasional kurang lebih 4 juta hektar adalah kunci produktivitas berkelanjutan sawit sebagai komoditas strategis nasional," kata Direktur Utama PT Bakrie Sumatera Plantations, M. Iqbal Zainuddin.

Iqbal menambahkan, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.

"Menindaklanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkret peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan. Kami optimistis, dalam jangka menengah dan panjang, perusahaan ini akan kembali bangkit menemukan momentum terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fondasi bisnis yang kuat," tutur Iqbal. (NEDELYA RAMADHANI/m)