BORNEONEWS - Sebuah angan-angan yang telah berlalu 60 tahun silam, suatu ketika muncul dan lambat laun menghilang. Kini angan-angan itu sudah dekat dengan kenyataan karena generasi kita masa lalu: membaca, mendengar informasi saat Bung Karno meletakkan batu pertama Palangka Raya di Pahandut Kalimantan Tegah. Dalam pidato sambutan beliau bahwa ada ucapan mengatakan bahwa: (1) saya sangat berkeinginan ibukota negara ini, adalah sebuah kota yang dibangun di alam kemerdekaan. Nah, Palangka Raya berdiri setelah negeri kita merdeka; (2) Nama ibu kota provinsi di Indonesia hanya dua yang berakhiran Raya. Yaitu Jakarta Raya dan Palangka Raya. Aneh bukan ?; (3) Palangka Raya terbebas dari bencana gempa bumi dan berbagai hal. Termasuk kota Palangka Raya berada di lokasi di tengah-tengah negeri kita Indonesia. Dan tidak pernah banjir kecuali di bantaran sungai Kahayan. Ini jauh dari kota.
Palangka Raya sejak tahun 1957 atau 60 tahun silam sudah dirancang bangun dan rekayasa, membuat kota, karena masih hutan saat itu. banyak orang terkesan jalannya lebar-lebar. Padahal dibuat lebar itu tidak lain direncanakan oleh Bung Karno kala itu. Karena beliau datang ke Palangka Raya berkali-kali. Dan ternyata untuk masa depan ibu kota negeri ini. Dalam perhitungan beliau, walau Jakarta saat itu tidak sepadat sekarang.
Mimpi Bung Karno 60 tahun silam sudah mendekati kenyataan. Karena Tokoh Nasional kita Bambang Brodjonegoro hari selasa di DPR mengatakan ada sekitar 400 ribu Pegawai Pusat dari Jakarta dipindahkan ke kota Mandiri Palangka Raya. Dari 400 ribu kepala keluarga itu, rata-rata setiap keluarga 4 orang, maka jumlah penduduk di sekitar kota Palangka Raya akan bertambah secara resmi 400 ribu x 4 orang menjadi 1,6 juta.
Dari kota Mandiri Palangka Raya ini, yang jelas bakal dipindahkan adalah: dari Legistatf (DPR), Yudikatif Mahkamah Agung (MA). Dengan wilayah terluas kedua dari provinsi di Indonesia, membuat kota Mandiri itu nanti akan bergeser karena diperkirakan dua wilayah kabupaten satu kota itu, yakni Kabupaten Katingan, Gunung Mas, dan Kota Madya Palangka Raya sendiri.
Penulis: HM Norsanie Darlan








