Salah satunya Sugeng Arifai. Alumni SDN 3 Raja angkatan tahun 2002/2003 ini sampai berkaca-kaca matanya saat menceritakan saat-saat ia menuntut ilmu di SD ini kepada Borneonews.co.id, Rabu (12/7/2017).
Menurutnya, melihat kondisi SDN 3 Raja saat ini artinya tidak ada perubahan signifikan terhadap pembangunan sekolahnya. Ia menuturkan banyak cerita di balik bangunan yang direhab terakhir 2004.
Gedung itu menjadi saksi bisu saat mereka setiap pagi sebelum proses belajar mengajar berlangsung, mereka harus membersihkan kotoran dari kelelawar dan jumlahnya begitu banyak, rutinitas itu dilakukan setiap hari.
Lebih menyedihkan saat proses belajar berlangsung dan hujan turun maka kotoran dari kelelawar itu bercampur dengan air hujan. Akibatnya mereka harus menggeser bangku mereka menghindari tetesan air hujan akibat atap di ruang kelas bocor.
" Kalau hujan turun ruang kelas heboh dengan murid yang sibuk menggeser bangku supaya tidak kena air yang bercampur kotoran kelelawar dari atas plafon," tuturnya.
" Saat sedang asyik belajar sering juga dikencingi kelelawar," timpal Edi Purwanto SE, teman sekelas Sugeng. Mereka berharap dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana infrastruktur yang dimiliki sekolah semoga pemerintah daerah cepat merespon dan memperbaiki bangunan sekolah mereka.
Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. Selain itu orangtua juga tidak khawatir terhadap keselamatan anaknya karena kondisi plafon sudah hampir ambrol dibeberapa bagian.
Curhatan para alumni SDN 3 Raja, Pangkalan Bun ini juga tertuang di akun Facebook Koko Sulistyo yang juga merupakan jurnalis di Borneonews.co.id (KOKO SULISTYO/B-6)








