BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Malaysia akan mengevaluasi kembali perdagangan dengan Perancis sebagai respons atas ancaman pembatasan penggunaan minyak sawit.
Hal itu diungkapkan Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong seperti dikutip The Star.
Pernyataan Mah itu untuk menyikapi ucapan Menteri Lingkungan Hidup Perancis Nicholas Hulot, yang mengusulkan membatasi penggunaan minyak sawit untuk pembuatan biofuel, dengan alasan untuk mengurangi deforestasi di negara-negara penghasil sawit.
“Pernyataan (Hulot) itu memberikan tekanan terhadap industri minyak sawit dan juga negara penghasil sawit," kata Mah.
“Saya yakin perdagangan antara Malaysia dan Perancis tetap kuat dan tumbuh, dan serangan terhadap industri sawit harus dihentikan,” tegasnya.
Mah menyebutkan pernyataan menteri Perancis itu bukan pada tempatnya, karena lebih dari 65% produksi minyak rapeseed Eropa telah dialihkan untuk biofuel dan energi terbarukan lain.
“Dan lagi, Eropa, termasuk Perancis, tidak dapat memenuhi mandatori target Renewal Energy Directive (RED) dan terus bergantung pada minyak nabati impor, termasuk bunga matahari, kedelai dan sawit guna memenuhi permintaan di Eropa sendiri," imbuhnya.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia mengantisipasi rencana Perancis yang akan membatasi penggunaan minyak sawit dalam produksi biodiesel tersebut.
"Antisipasi dilakukan untuk tujuan jangka pendek maupun panjang," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Karyanto Suprih, di Jakarta, Senin (10/7/2017).
Karyanto menilai, yang dilakukan Perancis tersebut akan dibicarakan terlebih dahulu bersama kementerian dan lembaga terkait, yang nantinya dijadikan pertimbangan dalam pengambilan langkah selanjutnya.
"Mungkin sekarang isunya lingkungan hidup, besok bisa lain lagi. Pemerintah akan ambil langkah dan menyiapkan opsi," papar dia. (NEDELYA RAMADHANI/M)








