BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dengan terus bermunculannya upaya untuk menghambat ekspor minyak sawit ke Eropa, baik Indonesia maupun Indonesia mau tidak mau harus membidik pasar potensial lain di luar kawasan Eropa.

Selain Afrika, pasar Timur Tengah, terutama Iran, juga memiliki potensi besar untuk menyerap produk minyak sawit. Hal itu pernah dikatakan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono, beberapa waktu lalu.

Joko mengatakan pasar Afrika juga memiliki potensi yang besar. Sebagai gambaran, ekspor produk olahan CPO ke Afrika tahun lalu mencapai 1,5 juta ton.

"Triwulan I tahun ini, ekspor CPO ke Afrika sebesar 664.000 ton, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 486.000 ton," ujar Joko.

Joko menambahkan, dengan diversifikasi pasar ekspor, ekspor produk CPO tidak hanya mengandalkan pasar Eropa. Pasar Timur Tengah dan Iran, termasuk pasar yang potensial karena Iran membutuhkan produk oleochemical.

"Kendalanya, perbankan di Iran tidak bisa menerima letter of credit (LC) untuk transaksi perdagangan internasional," tuturnya.

Sama seperti Indonesia, Malaysia juga melihat potensi besar yang dimiliki Iran untuk menyerap produk minyak sawit negeri jiran itu. Selama lima bulan pertama tahun ini, ekspor minyak sawit Malaysia ke Iran meningkat dua kali lipat menjadi RM748,1 juta, kata Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong, seperti dikutip New Straits Times.

“Mulai Januari hingga Mei, ekspor minyak sawit kami meningkat 141,5 persen menjadi RM748,1 juta dari RM309,8 juta," katanya.

Data terbaru dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan bahwa selama semester pertama tahun ini, Iran membeli 282.238 ton minyak sawit dari Malaysia. Angka ini naik lebih dari dua kali lipat dari 132.490 ton yang dikapalkan ke Teheran pada periode yang sama 2016.

Sementara itu, berdasarkan data dari GAPKI, produksi produk CPO tahun lalu sebesar 35 juta ton. Volume ekspor produk olahan CPO tahun lalu sebesar 25,11 juta ton dengan nilai US$18,21 miliar.

Adapun ekspor minyak sawit ke Iran terkendala oleh adanya kuota impor yang diterapkan negeri itu. Pada 2014, Iran menerapkan kuota impor untuk minyak sawit, yaitu total impor minyak sawit tidak boleh melebihi 30 persen dari total impor minyak dan lemak nabati. Akibatnya, pembelian minyak sawit oleh Iran anjlok 47 persen dari 997.000 ton pada 2013 menjadi 330.970 ton pada 2015.

Pada Maret 2016, kuota impor itu dicabut tapi digantikan oleh kenaikan bea masuk sebesar 40 persen, dibandingkan bea masuk untuk minyak nabati lain yang hanya sebesar 24 persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)