BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Permintaan Jepang untuk cangkang sawit dari Indonesia tumbuh lebih dari 40% dalam tiga tahun terakhir.
"Kami melihat fenomena baru ekspor produk sawit di mana ekspor cangkang sawit dan tandan kosong sawit naik sangat pesat," kata Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Bayu Krisnamurthi, di Jakarta, Kamis (13/7/2017).
Menurut Bayu, ekspor biomasa sawit ke Jepang tahun lalu mencapai 450.000 ton dan ke Korea mencapai 400.000 ton, dengan nilai ekspor total kedua negara itu senilai lebih dari Rp1 triliun.
Untuk harga cangkang sawit saat ini berkisar US$80 hingga US$85 per ton untuk harga di atas kapal atau freight on board (FOB).
Informasi dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang menyebutkan energi mix Jepang saat ini telah mencapai 14,6% dalam bentuk energi baru dan terbarukan (EBT), di mana 2% dari bioenergi termasuk cangkang sawit.
Jepang menargetkan bisa meningkatkan EBT menjadi 25% hingga 2030, termasuk bioenergi menjadi 4%. Dalam hal ini pemerintah Jepang menetapkan kebijakan harga jual listrik dari EBT atau dikenal dengan Feed in Tariff, sehingga dapat menarik investasi. (NEDELYA RAMADHANI/m)








