BORNEONEWS, Palangka Raya - Gelaran Kemah Budaya Nasional (KBN) tinggal menghitung hari. Dua hari dari sekarang, kegiatan bertaraf nasional dengan mengundang tamu dari luar negeri ini akan dibuka secara resmi dan pelaksanaannya ditetapkan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Sayangnya, di saat gencar-gencarnya persiapan akhir dilakukan oleh panitia lokal, ada saja kendala yang terjadi. Tidak main-main, kendala dimaksud adalah sengketa lahan.

Hal ini terungkap justru H-2 pelaksanaan, Jumat (14/7/2017) sehingga Wali Kota Palangka Raya, HM Riban Satia langsung turun tangan menangani hal tersebut.

Saat dimintai konfirmasi terkait kabar ini, Wali Kota menanggapi dengan cukup tenang. "Tidak usah kita tanggapi, biasa mereka lagi jualan," ucap Riban Satia sembari mengecek hal-hal apa saja yang harus dibenahi terkait sengketa ini.

Dalam ucapannya ini tersirat bahwa warga yang menyengketakan lahan Bumi Perkemahan (Buper) Kabariat Tuah Pahoe ini tentu menginginkan ganti rugi dari Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya. Apalagi gelaran even KBN ini dilaksanakan secara besar-besaran dengan mengundang lebih dari seribu orang tamu.

Menurut Rojikinnor, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Kota Palangka Raya, sengketa ini memang terkesan mengada-ada. "Lahan buper Kambariat Tuah Pahoe ini 10 hektare," tegasnya.

Akibat sengketa ini, masyarakat yang mengaku sebagai pemilik tanah sempat mengganggu kinerja panitia lokal KBN. Bangunan yang disengketakan termasuk musala serta kamar mandi/wc, namun proyek pengaspalan dan pemasangan tenda turut terganggu lantaran pemilik tanah datang dan menegur pekerja. (TESTI PRISCILLA/B-2)