BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pekebun kelapa sawit mandiri, di Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mulai mengeluhkan hasil panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang minim, sehingga mereka mengalami kerugian baik biaya, tenaga dan waktu.
Pekebun mandiri kelapa sawit menyadari bahwa minimnya hasil panen sawit mereka adalah buah dari kesalahan mereka yang ceroboh dalam pemilihan bibit. Masyarakat kebanyakan membeli bibit abal-abal yang tidak bersertifikasi, diantaranya ada juga yang membeli bibit yang masih dalam bentuk kecambah dalam kemasan.
Selain faktor bibit masyarakat juga dihadapkan pada kurangnya pemahaman pemeliharaan pohon sawit sehingga mereka cenderung melakukan pemupukan secara tidak teratur.
"Dalam setengah hektar bahkan ada sepuluh pohon yang tidak berbuah, sementara yang berbuah saat di panen hanya dapat 200 kilogram hingga 250 kilogram, tidak sebanding dengan perawatan yang kami lakukan," keluh Juki, pekebun mandiri kelapa sawit di Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arsel, Kabupaten Kobar, Sabtu (15/7/2017).
Menurut Juki, permasalahan ini bukan hanya ia yang mengalami, tetapi masih banyak pekebun sawit mandiri yang mengeluhkan hal serupa. Untuk itu ia berharap kepada pemerintah untuk memberikan pengetahuan bagaimana cara memperoleh bibit sawit yang berkualitas sehingga hasil kebun sawit mampu mensejahterakan mereka.
Sebelumnya, pengusaha nasional owner PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) -CBI Group, H. Abdul Rasyid AS saat penanaman perdana kelapa sawit pola kemitraan di Desa Kumpai Batu Atas baru-baru ini menyesalkan ketidakpedulian perusahaan besar swasta (PBS) di Kalteng yang tidak peduli terhadap pekebun mandiri kelapa sawit terutama dalam memberikan bantuan bibit yang berkualitas.
Akibatnya masyarakat merasakan dampak dari bibit abal-abal yang dibelinya dan dampak dari penggunaan bibit tersebut akan dirasakan selama 25 tahun ke depan. (KOKO SULISTYO/B-5)








