BORNEONEWS, Sampit - Menjalankan kelotok atau sebagai merupakan salah satu mata pencaharian untuk penduduk wilayah Kecamatan Seranau, Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Kelotok merupakan perahu kecil yang digunakan masyarakat Kotim sebagai alat transportasi di sungai.
Begitupun untuk penduduk di Kecamatan Seranau, kawasan berada di seberang Kota Sampit yang dipisahkan oleh Sungai Mentaya itu, pembangunan jembatan penghubungnya masih sebagai wacana.
Sehingga jika ingin beraktivitas menuju kota di seberangnya harus menggunakan kelotok. Namun hal tersebut justru merupakan keberuntungan bagi segelintir orang di daerah tersebut. Ketiadaan jembatan justru membuat mereka memiliki pekerjaan, yakni menjalankan kelotok
"Saya sudah bertahun-tahun menjalankan kelotok, kalau dihitung-hitung hasilnya cukup untuk menafkahi istri dan sekolah anak," tutur Masjoni, salah satu pemilik taksi kelotok, Kamis (13/7/2017).
Ia mengatakan, dalam sehari uang yang ia peroleh dari menjalankan kelotok ditambah modal membeli bahan bakar mesin kelotok, tidak kurang dari Rp 100 ribu. "Bersihnya segitu," tambahnya.
Berbeda hari-hari tertentu jika ada yang ingin sekedar berwisata susur sungai dengan menyewa kelotok, maka harga akan ditentukan sesuai kesepakatan. "Kita nego, ada yang bayar Rp120 ribu sampai dengan Rp150 ribu," ujarnya.
Atau jika pekerja kapal yang sedang berlabuh di Sungai Mentaya menjadi penumpangnya, biasanya akan memberi ongkos lebih. Di Sungai Mentaya saat ini memang menjadi jalur yang dilewati kapal dengan berbagai aktivitas.
Menurutnya, usaha menjalankan taksi kelotok sangat membantu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-sehari. Tidak hanya Masjoni, tidak kurang dari 20 kelotok yang beroperasi setiap harinya.
Masjoni sendiri biasanya, bekerja dari pagi hari hingga malam hari, begitupun yang lainnya. "Yang namanya punya sendiri terserah saja, tapi biasanya jam anak-anak sekolah itu sudah mulai menjalankan kelotok, sampai malam hari sekitar jam 08.00 WIB," pungkasnya. (NOOR ANNISA/B-5)








