BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) berpeluang menguat jangka pendek, setelah dibuka turun di level 2.560 ringgit per ton pada Senin (17/7/2017) menyusul laporan kenaikan nilai ekspor minyak sawit Indonesia.
"Namun kenaikan harga CPO kemungkinan terbatas karena mata uang ringgit terlihat melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS," kata analis PT Monex Investindo Futures Faisyal dalam risetnya di Jakarta, Senin.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada Senin ini melaporkan bahwa jumlah ekspor minyak kelapa sawit dan minyak inti kelapa sawit naik 49% pada Mei dari bulan yang sama pada tahun lalu.
Indonesia mengekspor 2,62 juta ton minyak kelapa sawit dan minyak inti kelapa sawit pada Mei, naik dari 1,76 juta ton pada Mei 2016, dan untuk jumlah pengiriman naik 2% dari April.
Adapun mata uang ringgit menguat sekitar 0,1% di level 4,2905 per dolar AS pada Senin pukul 13:00 WIB.
Mata uang ringgit yang lebih kuat akan membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal untuk pemilik mata uang utama lainnya.
Sementara itu, secara teknikal, harga CPO berpotensi bergerak antara 2.540 – 2.580.
"Untuk sisi bawahnya, menembus ke bawah level 2.540 dapat mendorong harga lebih rendah lagi untuk menguji level support di 2.515, dan untuk sisi atasnya, menembus ke atas level 2.580 harga dapat bergerak lebih tinggi lagi menuju ke area 2.615," katanya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








