BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Perusahaan perkebunan asal Malaysia, Felda Global Ventures Holdings Bhd (FGV), saat ini mengalami penurunan pendapatan yang mengancam arus kas mereka. Apa penyebabnya?

Salah satu penyebab kerugian yang dialami FGV adalah kurangnya pekerja lapangan yang membawa tandan buah segar sawit dari perkebunan ke pabrik pengolahan. Dan mayoritas pekerja itu adalah asing, dengan tenaga kerja Indonesia (TKI) berada di urutan teratas.

Penjabat ketua FGV, Tan Sri Sulaiman Mahbob, seperti dikutip The Star, mengatakan kelompok usaha yang dipimpinnya itu membutuhkan sedikitnya 7.000 tenaga kerja tambahan untuk memanen dan membawa sawit ke pabrik pengolahan.

“Kondisi ini sangat kritis dan akan menjadi prioritas kami,” katanya kepada wartawan.

Sulaiman memperkirakan akibat kekurangan pekerja di lapangan, perusahaannya merugi sekitar RM2 juta (Rp6,2 miliar) per hari.

“Hal ini jelas menggerus arus kas kami. Kami tak bisa lagi menunda untuk menyelesaikan masalah ini,” tutur Sulaiman.

FGV saat ini memiliki area perkebunan sawit lebih dari 440.000 hektare yang tersebar di Malaysia dan Indonesia.

Perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 35.000 pekerja asing.

Kondisi yang dialami FGV juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Malaysia yang sejak Februari 2016 membekukan masuknya tenaga kerja asing.

Situasi diperparah setelah Departemen Imigrasi Malaysia pada 1 Juli lalu melakukan sweeping terhadap para pekerja asing. Tanggal itu adalah batas terakhir bagi para pekerja asing untuk mendaftarkan keberadaan mereka di negeri jiran tersebut. (NEDELYA RAMADHANI/m)